Monthly Archives: February 2016

Nendang Di Lidah, Kenyang Di Perut, Mantapnya Makan Di R.M Yosi Mandiri

Rumah makan Yosi Mandiri


Masih tentang kuliner Purbalingga yang tidak akan pernah mati. Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman menikmati bebek bakar yang yahuuud dan menggugah selera. Awalnya saya ditawari oleh teman untuk makan di sebuah cafe, tetapi saya menolak karena makanan di cafe tentu saja tidak ada menu nasi. Sehingga teman saya menyarankan makan di salah satu kedai di jalan D.I. Panjaitan, Purbalingga, Warung Makan Yosi Mandiri.

Nama warung makan ini masih belum familier di telinga saya. Ingin menolak, tetapi tidak enak sama teman, akhirnya saya iyakan saja untuk makan di Yosi Mandiri. Dan pada hari Rabu sore, sepulang kerja, saya dan Mba Mie langsung menuju Yosi Mandiri.

 

Daftar menu makanan di R.M Yosi Mandiri

Sampai di sana ternyata tempat parkirnya cukup luas, ruangannya juga luas, dan seperti konsep warung makan di Purbalingga lainnya, selalu menghadirkan tempat lesehan, karena memang selalu menjadi tempat favorit pagi pengunjung. Tidak lama kemudian setelah kami duduk di ruang nomor 8, pramusaji datang membawa daftar menu. Sambil menunggu teman kami yang satunya, Vhety, kami memesan makanan.

Saya memesan Nasi, Bebek Bakar, Tumis Touge dan minum Jeruk hangat. Sedangkan Mba Mie memesan dua porsi (satu untuk Vhety). Nasi, Bebek Goreng, Cah Kangkung dan Tumis Jamur, serta minumnya sama, Jeruk hangat juga.
Sedang menunggu pesanan datang, akhirnya Vhety datang juga. Kami pun mengobrol terlebih dahulu untuk menahan lapar sejenak. Tak berapa lama kemudian, apa yang dipesan pun datang, Mba Mie menambah pesanan, yaitu ‘Sambal Bledek‘. Sebuah sambal yang sangat pedas terkhusus bagi pecinta kuliner pedas.
Saat pertama bebek bakar sampai di lidah, lezatnya langsung terasa. Begitu pun dengan bebek goreng yang dipesan oleh Mba Mie dan Vhety. Karena kelezatan yang begitu ‘sumringah‘ yang akhirnya kami memutuskan untuk menambahkan nasi tiga porsi lagi. Rasanya sayang sekali jika tidak menambah nasi.
Dengan lahapnya kami bertiga menikmati hidangan yang sempurna. Untuk tumis tougenya rasanya enak sekali, pas dengan bumbunya. Untuk tumis jamurnya, nikmatnya nempel terus di lidah, selain itu jamurnya juga empuk dengan tingkat kematangan yang baik. Untuk tumis kangkung, matangnya juga pas, tidak undercook. Sambalnya gurih dan bawangnya terasa sehingga menambah nikmat ketika dipadukan dengan bebek goreng maupun bakar
.
Untuk bebeknya sendiri yang bakar bumbunya meresap, dan dagingnya tidak alot (empuk), mudah untuk dimakan. Sedangkan bebek gorengnya diluar krispi, dan dalamnya juga empuk, mudah dipisahkan antara daging dengan tulangnya.
Untuk harga juga cocok karena 1 porsi bebek bakar/goreng hanya Rp 17.500. Tumis Jamur Rp 10.000/porsi. Tumis Kangkung Rp 5.000/porsi. Tumis Touge Rp 5.000/porsi. Sedangkan untuk minuman jeruk hangat Rp 5.000/gelas.
Ampun, cewek-cewek makannya sampai pada bersih, haaaa
Saking nikmatnya, kami menghabiskan semua hidangan kecuali sambalnya. Hehehe.. Rasanya sangat puas, perut kenyang dengan rasa yang nikmat.
yang mau paket hemat, daftar menu ada di atas sendiri 🙂
Selain itu, ada juga menu-menu lain yang ditawarkan oleh Rumah Makan Yosi Mandiri, bahkan ada menu paket hemat. Yosi Mandiri, pokoknya komplit dah…
Jadi, ingin mengenyangkan perut dengan rasa yang nikmat? Datang saja ke Rumah Makan Yosi Mandiri di Jl. DI. Panjaitan No. 98, Purbalingga.

Gurihnya Ayam Bakar Tanteku

Ayam Bakar Tanteku Catan harian Ery Espania Udya
Sengaja kulewat di sekitar Jalan Jenderal Sudirman, Purbalingga. Rencananya memang ingin menikmati nasi goreng spesial di salah satu kedai ternama di Purbalingga, tetapi sayangnya kedai tersebut tutup. Bingung, lapar dan kecewa rasanya. Sampai aku terus berjalan untuk mencari sesuatu sebagai pengganti nasi goreng.
Di sini memang banyak kedai atau warung-warung makan yang berjejer. Aromanya sudah menggugah selera untuk segera singgah dan melahap makanannya. Akhirnya langkah kakiku terhenti di sebuah warung makan. Halaman parkirnya memang tidak luas karena langsung menyatu dengan jalan raya, tapi ketika sudah masuk, di dalamnya sangat luas. Kita bisa memilih tempat duduk yang biasa atau dengan cara lesehan. Dan saya tertarik untuk duduk di lesehan.
Pengunjung sangat ramai, bahkan tempat lesehan hanya tersisa satu. Beruntunglah saya mendapatkannya. Tanpa basa-basi, saya langsung memesan Ayam Kampung Bakar dengan Nasi, Lalapan dan Sambal. Bukan cuma itu, saya juga memesan mendoan dan sambal kecap sebagai pelengkap dan jeruk hangat sebagai minumnya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan pun datang juga. Tak sabar rasanya untuk mengobati rasa lapar yang sedang melanda perut. Begitu ayam bakar sampai di lidah, sensasi kelezatannya langsung terasa. Bumbu dan rempah-rempah lainnya meresap dengan sempurna. Selain itu, ada rasa gurih yang membuat saya tak henti untuk melahapnya, sudah begitu ada mendoan dan sambal kecap yang menambah kenikmatan.
catatan harian ery espania udya
Menu Ayam Kampung Bakar dan Mendoan

Tak terasa begitu cepat saya melahap hidangan ini. Daging ayam kampungnya empuk, meskipun dimasak dengan cara dibakar. Bahkan tidak alot, mudah untuk dimakan. Kelezatan yang begitu menggoda setiap pengunjung dan membuat mereka termasuk saya ingin setiap hari datang di sini.

Baca juga : Ayam Penyet Suroboyo, Dari Aromanya Sudah Menggoda

Rumah makan Tanteku ini lokasinya luas dan nyaman, kita bisa datang bersama teman-teman, keluarga, dan ataupun dengan orang yang terkasih. Selain menu ayam bakar, ada juga menu-menu yang lain termasuk masakan ikan seperti berbagai macam olahan bawal, gurameh, dan lele. Ada juga menu lain seperti nasi goreng, cah kangkung, mendoan, tahu goreng, berbagai olahan mie, kwetiau dan lain-lain. Di sini, lidah dijamin untuk menikmati kelezatan.
catatan harian ery espania udya
Daftar Menu di Rumah Makan Tanteku, Purbalingga
Harga di sini juga tidak membuat dompet kita menipis, karena di sini murah. Lokasinya tidak jauh dari keramaian kota karena terletak di jantung kota Purbalingga tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman No. 152. Dari arah alun-alun ke timur, menghadap ke utara, sebelah selatan jalan raya.

Ayam Penyet Suroboyo, Dari Aromanya Sudah Menggoda

Ayam Penyet Suroboyo Purbalingga
Ketika jam makan siang datang, pegawai kantor pasti langsung keluar ruangan untuk menuju tempat makan. Mereka dan termasuk diriku ikut berlalu lalang mencari tempat yang nyaman dan tentu saja dengan rasa nikmat, karena mengenyangkan perut saja rasanya tidak cukup jika lidah ini tidak merasakan kelezatannya.
Siang ini aku termasuk orang yang galau untuk makan dengan menu apa. Biasanya kalau sedang rajin memaksa, membawa bekal dari rumah, berhubung hari ini sedang malas, jadi makan di luar. Dengan Nova, sahabatku, kita berdua mencari makan yang asyik. Setelah beberapa warung makan dijumpai tempatnya sudah full, alias tidak akan tempat duduk lagi untuk kita berdua – cling, langsung cari tempat lain dan akhirnya menemukan – Ayam Penyet Suroboyo.
Sebenarnya tidak asing lagi di telinga dengan tempat ini, termasuk diriku juga kadang kala meluangkan waktu untuk makan di sini. Hanya saja, baru kali ini aku sempat untuk menulis tentang kuliner di sini.
Pelayan Ayam Penyet Suroboyo
Terletak di sebelah timur Alun-alun Purbalingga, membuat tempat ini selalu ramai pengunjung, dari pagi hingga sore bahkan malam. Hal ini bukan karena tidak alasannya, selain harga murah, rasanya pun sangat menggugah selera. Dari jalanan yang masih berjarak 30 meter, aroma kelezatannya sudah bisa tercium. Maka dari itu, setiap orang yang lewat di depannya pasti langsung tergoda untuk mampir meski sedang berkendara.
Ayam Penyet Suroboyo
Menu yang disajikan juga berfariasi, ada ayam penyet, ayam bakar, mie goreng, ikan goreng, ikan bakar dan masih banyak menu tambahan lainnya. Ayamnya sendiri dibagi dua jenis, ada ayam kampung dan ayam potong. Selain itu, ada menu tambahan seperti cah kangkung, tahu goreng, tempme goreng, udang kremes, terancam, sambal dan lainnya.

Kecantikan Di Atas Gunung Sendaren

Perjalananku masih tentang alam. Iya, rasanya aku belum puas jika belum mengeksplor surga yang tersembunyi di belahan Purbalingga, Jawa Tengah. Untuk itu, ketika ada kesempatan untuk bertravelling, aku sempatkan diri untuk berkelana menyusuri alam yang megah. Aku kembali ke Desa Panusupan, ada satu puncak yang belum kudaki, Gunung Sendaren.

Jalan Menuju Puncak Gunung Sendaren Desa Wisata Panusupan
Jalan Menuju Puncak Sendaren
Sebuah bukit yang menjulang tinggi, dengan perjalanan yang cukup menanjak. Namun di Puncak, kutemukan surga. Bagaimana tidak? Di atas puncak ini, kita bisa melihat segala pemandangan luas yang sungguh menawan, termasuk juga, kita merasakan dinginnya awan yang menerpa tubuh. Rasanya seperti melayang di udara. Hehehee..
Awan di puncak gunung sendaren
Awan berasa hanya berjarak sejengkal
Pendakian kali ini rasanya sesuatu sekali, karena pada saat awal kita mendaki cuaca cerah. Di tengah perjalanan, tiba-tiba awan tebal menyelimuti jalan menuju puncaknya. Al hasil, tak lama di puncak, hujan pun turun. Terpaksa kami berteduh di tenda pengelola agar tidak kehujanan. Dan beruntungnya, hujan hanya sebentar, cuaca cerah kembali lagi menghiasi puncak ini.
gunung sendaren desa wisata panusupan
Detik-detik turun hujan, awan gelap sudah menerpa
desa wisata panusupan
Kabut mulai pergi, sungai di pedesaan pun mulai tamapk
Di Puncak Sendaren, kita bisa menikmati ‘Jembatan Selfie’ yang memang khusus dibuat untuk kita yang ingin berfoto di ketinggian. Dari tempat inilah, pemandangan alam akan terlihat sempurna, bahkan sungai-sungai di pedesaan akan nampak. Selain itu, ada juga ‘Susuh Manuk’ yang merupakan tiruan dari rumah burung dengan ukuran besar. Susuh manuk ini pun dijadikan sebagai tempat untuk berfoto mengekspresikan diri.
jembatan selfie gunung sendaren desa panusupan
Setelah cerah kembali, pengunjung berekspresi di jembatan selfie
Bagi kalian yang belum puas akan keindahan alam di siang hari, di sini juga diizinkan untuk mengadakan camping (menginap) di puncak. Kita bisa menikmati sunset yang indah dari ketinggian 682 meter di atas permukaan laut. Sensasi yang luar bisa juga terjadi ketika malam hari karena ada Night Shoot (Lighting Painting) di Jembatan Selfie. Hal ini membuat semakin indahnya suasana malam di Gunung Sendaren. Dan ketika fajar menyingsing, tentu saja, golden sunrise pun akan menampakkan diri dengan sempurnanya. Sungguh ekostis tempat ini, membuat wisatawan yang datang ingin kembali lagi, karena rindu dengan eksotisme Gunung Sendaren.
night shoot gunung sendaren di desa wisata panusupan
Night Shoot yang memukau di jembatan selfie
selamat pagi gunung sendaren desa wisata panusupan
Suasana pagi hari di Puncak Sendaren
Gunung Sendaren ini cocok pendaki mana saja, baik mereka yang sudah terbiasa, ataupun mereka yang baru belajar mendaki. Karena jalannya cukup landai, tidak begitu terjal. Jadi, bagaimana? Tertarik untuk berekspresi di Jembatan Selfie? Datang saja ke Gunung Sendaren.

Tips Mendaki Menggunakan Rok/Long Dress/Gamis

Assalamu’alaikum, hai semuanya. Libur panjang telah usai, saatnya kita beraktivitas kembali. Oh ya, tak lupa juga saya mengucapkan Gong Xi Fa Cai,Selamat Tahun Baru Imlek bagi teman-teman yang merayakannya.

Berbicara soal liburan, kemarin saya jalan-jalan lagi ke Gunung Sendaren. Sebuah bukit yang jalannya cukup menguras tenaga. Tapi saya berhasil, dan lebih menyenangkan lagi, saya memakai long dress, yang di mana biasanya sulit bagi para pendaki jika menggunakan dress, rok dan ataupun gamis. Sebagai muslimah sepertinya saya lebih nyaman jika menggunakan baju-baju seperti itu, tanpa menggunakan celana ketat untuk mendaki.
Untuk itu, saya ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman semua, tips untuk mendaki menggunakan rok/gamis. Langsung saja ini, ya :
 
Pertama :
Pilihlah rok/long dress/gamis dengan berbahan ringan.
Hal ini bertujuan agar kita ringan untuk melangkah, tidak terlalu berat dengan bahan baju yang kita pakai. Kita bisa memakai bahan dari satin, katun dan bahan lainnya yang membuat nyaman,  selain ringan juga sejuk (tidak membuat panas).
Kedua :
Rok/long dress/gamis harus longgar.
Tentu harus longgar, karena langkah kaki kita untuk jalan menanjak, rasanya akan sangat sulit jika kita menggunakan rok/long dress/gamis yang nge-pas badan.
 
Ketiga :
Pakailah tambahan pakain dalam.
Di sini, kalian bisa memakai celana legging atau rok pendek, hal ini bertujuan agar ketika kita tertiup angin maka tidak membuat tubuh kita transparan.
Keempat :
Angkat rok/long dress/gamis sampai di bawah lutut.
Hal ini agar jalan kita mulus, tidak tersendat-sendat dengan kain panjang. Tetapi, Insya Allah aurat kita akan tetap tertutup karena kita memakai legging atau tambahan kain di dalamnya.
Jadi, bagi teman-teman muslimah yang ingin mendaki, jangan khawatir, kita tidak perlu memakai celana pendaki dan kaos ketat. Kita masih tetap bisa tampil menjadi diri kita sendiri. Kemarin saya juga begitu sampa-sampai ada yang mengatakan saya salah kostum. Wah, itu tentu saja tidak baik, toh kita totalitas menggunakan pakaian apa yang dianjurkan dan nyaman untuk diri kita sendiri.