Kuliner

Demi apa, ke Purworejo cuma gara-gara Dawet Ireng!

Spread the love

Hello, Guys, kali ini aku mau cerita tentang perjalanan entah apa namanya, yang jelas rada sulit dinalar oleh ‘manusia biasa’. Jadi begini, tiga hari setelah menikah, aku merengek-rengek ke suami pengen nyicipin minuman khas suatu daerah. Berhubung rengekanku terus menerus, akhirnya hari berikutnya kita berdua berangkat dengan mengendarai kendaraan roda dua. Dari rumah memang pagi, jam delapan, tapi kita mampir dulu ke tempat service motor karena mau melakukan perjalanan jauh, kan sayang motornya kalau kenapa-kenapa (kalau orangnya yang kenapa si udah biasa 😀).

Nyampai bengkel motor ternyata antrinya udah kayak ular naga, panjang banget. Duduk di bengkel rasanya udah kayak nungguin apa gitu, sampai kita keluar buat beli jus dan dilanjutkan menyusuri jalan Jenderal Sudirman Purbalingga dengan jalan kaki untuk mencari aksesories hp Pak Suami. Yang akhirnya kita kelelahan tanpa hasil apa-apa, jadi kita balik lagi ke bengkel. Cek jam di tangan sudah menunjukan 10.15, dan motor kita belum selesai diservice. Terpaksa nunggu sambil online memanfaatkan wifi gratis yang tersedia di bengkel. Dan pukul 10.45 dipanggil kalau motornya udah diservice.
Setelah keluar dari bengkel, suami langsung nyeletuk, “Jam segini baru mau berangkat, nyampai sana jam berapa?”
Udah kebayang, kita jalan-jalan yang akan memakan waktu kurang lebih 3 jam.
Aku cuma jawab, “Hehehe, ya ayolah segera berangkat,”
Akhirnya kita segera meluncur menuju Purworejo. Sesuai dengan perkiraan, perjalanan ini memakan waktu kurang lebih tiga jam. Daerah Purworejo yang kita singgahi belum masuk wilayah kotanya, masih di daerah Butuh, tepatnya timur jembatan butuh.
Setelah melewati beberapa meter dari jembatan, kita berhenti di sebuah ‘gubuk’ namun tak reot, tepatnya malah kokoh, meski tak seperti rumah, tapi pas dan nyaman untuk tenda berjualan.
Beliau yang di tengah-tengah itu yang jualan dawet ireng. Ramai banget

 

Di dalamnya ada seorang laki-laki paruh baya yang masih sehat. Dia dikerumuni banyak orang, termasuk kami berdua. Kita semua rela mengantri demi semangkuk minuman khas Purworejo, yang tak lain dan tak bukan Dawet Ireng (hitam). Disebut Dawet Ireng karena dawetnya berwarna hitam yang terbuat dari beras ketan hitam.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kita dapat dawetnya. Hmm, seger rasanya melepas dahaga setelah melakukan perjalanan jauh dari Purbalingga demi menikmati semangkuk dawet. (Kayaknya cuma kami berdua deh, yang rada gila begini, jauh-jauh ke Purworejo cuma buat menikmati dawet). Lebih parah lagi, kalau dibandingkan dengan bensin dan harga dawetnya. Bensin pulang pergi kita isi Rp 20.000, sedangkan dawetnya hanya seharga Rp 5.000/mangkok. Super murah.
Lalu, apa istimewanya si, sampai dibela-belain gitu?
Ini penampakan Dawet Ireng; sungguh menggoda

 

Jadi gini, dawet ireng ini sudah sangat melegeda, meski yang jual saat ini bukan pencetus asli, karena yang jualan pertama sejak tahun 1939 sudah meninggal. Menurut bapak yang jual, saat ini beliau adalah anaknya (kalau gak salah, kalau salah mohon koreksi). Setiap hari berjualan di daerah Butuh, Purworejo. Penggemarnya juga dari bermacam-macam daerah. Ya wajar saja, karena rasanya memang segar, manisnya gula asli, bukan manis buatan, dan dawetnya juga kenyal sedap. Tak heran, saat kami ke sana, banyak sekali yang mengantri.

 

Abaikan bibir yang lagi manyun gitu, hahaha

Selepas puas menikmati dawet ireng (tak lupa bayar dulu), kita bersiap-siap meninggalkan Purworejo. Dalam perjalanan pulang, Pak Suami berkomentar, “Demi apa, ke Purworejo cuma gara-gara Dawet Ireng!” Dan aku hanya cekikikan. Merasa puas dan berhasil ‘ngerjain’ suami untuk menemani jalan-jalan.

Okay, itu cerita dari aku, semoga bisa lebih aktif lagi dalam ngeblog dan bercerita tentang kekonyolan tentang traveling dan menikmati kuliner, hihihi. 🙂
Tagged , ,

About travelingku

Perempuan yang suka menulis dan travelling. Blogger | Writer | Chef of Family | Traveller | Buzzer. Untuk kerjasama bisa menghubungi via email : eri.udiyawati@gmail.com or WA : 0812 2562 9943. Media sosial Instagram : @es_pania , Twitter : @espaniaudya
View all posts by travelingku →

15 thoughts on “Demi apa, ke Purworejo cuma gara-gara Dawet Ireng!

  1. Aku ama suami malah seneng ngelakuin hal2 gitu mba :D. Kita pernah dari jkt, jalan ke serang yg naik mobil bisa 3 jam cm utk makan sambel kecombrang. Ato ke Purwakart cm makan sate hahahaha.. Seru lagi begitu 😀

    Ini dawet kliatan bgt seger yaaaa.. Tp kalo sejauh ini ga mungkin pak suami mau diajakin pulang hari kesana hihihi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *