Lain

Menikmati Ramainya Jalan di Jogja yang Penuh Kesan

Spread the love

Perjalanan ini masih tentang cerita masa-masa honeymoon ya, maklum pengantin baru. Kala itu malam Minggu di Jogja, awalnya bingung mau ngapain, jadi kami putuskan untuk ke Malioboro, biar kayak orang-orang gitu. Malam Minggu macet dan ramai, terlebih lagi ada beberapa ruas jalan di Maliboro yang sedang dipugar.

Terlihat trotoar belum rapi, kan?

Sambil menyusuri jalan, kami coba mencari santapan untuk mengisi perut. Terlihat penjual aneka makanan sangat ramai. kami berhenti di warung pinggir jalan untuk makan malam. Dengan menu nasi gudeg dan tempe goreng, kami cukup lahap memakannya, bukan karena rasanya yang enak banget, tetapi kami yang sedang kelaparan. Jadi ya, apa saja bisa masuk ke perut, andai saja beling-beling bisa dimakan, kami pun makan juga. Hahahaha, just kidding πŸ˜€

Saking lahapnya, kami sampai lupa tidak memfoto makanan kami. Tapi ada baiknya juga, karena rasanya memang kurang enak. Manisnya terlalu, mungkin ini karena lidah saya yang belum terbiasa ya, jadi agak merasa aneh. Selain itu, bumbunya kurang nendang (kalau ini pasti kesalahan lidah saya, karena biasanya kami traveling itu makannya nasi padang). Padahal ya, orang-orang yang di dekat kami makannya enak banget. Sangat menikmati hidangan yang ada dan menu sama. Ya sudah, kemungkinan terbesar lidah kami, terutama saya yang sangat-sangat embuh. Tapi enggak apa-apa lah ya, nasi gudeg ini cukup mengganjal perut yang sudah discoan, bukan hanya keroncongan saja. Untuk air minum kami beli bawa sendiri yang pas dari hotel, kami mampir ke salah satu swalayan.

Setelah selesai makan, kami menghampiri penjualnya untuk membayar apa saja yang kita makan. Cukup kaget juga dengan harga yang dilontarkannya. Pasalnya hanya dua nasi gudeg dan dua tempe goreng dibandrol Rp 46.000,00. Okay lah, fix, mungkin harga standardnya begitu karena di tempat keramaian. Telebih kami sedang kelaparan dan sedang malas untuk mencari tempat makan yang recomended.

Niat banget foto di sini, sampai rela beberapa menit biar jalanan terlihat senggang

Kemudian kami melanjutkan jalan kaki dan menikmati malam di titik 0 Kilometer Yogyakarta. Pinginnya sih kayak orang-orang gitu, duduk-duduk di kursi pinggir jalan Malioboro, terus upload ke instagram. Eh, ternyata momen kami kurang beruntung. Selain banyak material yang cukup berserakan, wisatawan pun sedang membludag (aslinya Jogja memang setiap hari ramai). Ya sudah, kami hanya duduk sambil melihat sliwernya lalu lintas yang sangat padat.

Tour Guide sekaligus photographer pribadi saya πŸ˜›

Puas melihat lalu lintas, kami geser ke depan benteng Vredeburg dan duduk-duduk santai. Sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, Pak Suami inisiatif menghubungi adiknya yang kerja di Jogja. Untuk membunuh waktu menunggu dia datang, kami nyicipin jagung bakar. Itung-itung biar enggak terlalu bosan menunggu. Dan akhirnya, jagung bakar habis, adik sampai juga. Oh ya, dia bernama Usman.

Patung Tugu Jogjakarta, demi foto berdua di sini, ngantri sampai 15 menitan

Dia mengajak kami ke Patung Tugu yang ramai dan yang katanya ngehitss kalau di malam hari. Dan ya, memang ramai banget, beruntung bisa ambil foto-foto juga di sini meski harus antri terlebih dahulu.Β Foto-foto sudah puas, berbincang-bincang sambil jalan-jalan sekeliling tugu juga sudah, ternyata kami lapar lagi. Beruntungnya Usman mau mengajak makan di warung lesehan dekat sungai. Tapi sayangnya, saya lupa apa nama sungai tersebut, yang jelas seberangnya ada gedung hotel. Sepanjang jalan di pinggir jalan itu banyak orang-orang yang berjualan makanan dan minuman baik makanan berat/camilan.

Berhubung lapar, saya pesan nasi goreng, lemon tea hangat dan camilan roti bakar (enggak usah dibayangkan makan nasi goreng terus camilannya roti bakar). Kalau suami pesan mie goreng, lemon tea hangat dan kentang goreng. Sedangkan Usman hanya memesan mie goreng dan es teh.

 

Baca juga :Β Nikmatnya Nasi Goreng Flamboyan Sang Legenda Nasi Goreng

 

Enggak tahu mengapa ya, hanya sedikit jalan-jalan saya mudah kelaparan, kan jadi lupa lagi mau memfoto makanan. Setelah makanan saya habis, saya juga mengganggu makanan suami. Iya, saya juga ikut nimbrung makan kentang gorengnya. Entahlah, mungkin masa proses pertumbuhan menuju emak-emak (jadi gemuk) wkwkwkwkwk.

Makan di pinggir jalan, terus di bawahnya itu ada sungai, seberang jauh sana ada perumahan dengan lampu yang kerlap kerlip. Rasanya memang syahdu, sampai enggak kerasa kalau makanan kami sudah ludes des, mau nambah tapi malu. Jadi ya sudah, kami segera bayar. Dan harganya berbanding terbalik dengan nasi gudeg yang tadi. Ini sangat luar biasa. Dari semua makanan yang kami pesan, hanya menghabiskan Rp 48.000,00. Super duper murah meriaaaaah….

Dan ternyata malam kian larut, kami pun berpamitan ke Usman untuk kembali ke hotel. Ternyata arahnya sama yaitu menuju jalur Ambarukmo. Namun kami berpisah di jalan tersebut, kami masuk gang untuk masuk hotel, dan Usman lurus menuju arah Bandara Adi Sucipto. Sampai di hotel, kami lelah, langsung tepar dan tertidur pulas. Ya itung-itung menyimpan energi untuk esok harus ke Magelang untuk nengok adikku yang kerja di sana.

Absurd πŸ˜€

Kekinian hahaha

Pagi-pagi diawali dengan ribut mencari sarapan, setelah muter-muter keliling perumahan, kami belum nemu juga. Akhirnya dengan lelah, kami menemukan gang yang terdapat orang jualan makanan. Ternyata Warung Ayam Geprek Bu Rum. Langsung kami pesan dan makan di situ. Setelah selesai, kami cap cus ke Malioboro lagi. Ceritanya biar kekinian, foto-foto di jalan gitu, terus tak lupa juga foto duduk di kursi pinggir jalan. Ya, meksipun bukan malam hari, yang penting rasa penasaran sudah terbayar. Namun, perjalanan kami di Maliboro belum berakhir, kami mencari penjual bakpia. Jalan kaki entah berapa ratus meter ke tempat pusat penjualan bakpia pathok 25. Asyiknya di sini ada testernya. Udah gitu, bakpianya masih fresh from the oven, bahkan bukan cuma anget, tapi panas.

Terlihat jelas, siapa yang kecapekan πŸ˜€

Giliran mau balik ke parkiran, kami bingung. Mau jalan lagi enggak mungkin deh kaki dah pegel-pegel banget. Jadi kami naik becak menuju parkiran. For your information ya, Guys… tempat parkir di Malioboro sekarang tertata rapi. Berada di ujung utara seberang jalan Malioboro. Kendaran roda dua ada di atas, sedangkan roda empat ada di bawah. Dan dengan sisa-sisa tenaga, kami naik tangga untuk mengambil motor. Yang akhirnya kami langsung menuju Magelang.

Hallo, Borobudur, I’m Coming…. perjalanan pun penuh warna, sempat nyasar dan lain sebagainya. Bahkan sampai masuk ke kompleks Universitas Gajah Mada. Hahahaha.. niat banget kan. Itulah cerita perjalanan absurd kami, kalau kalian bagaimana?

Perempuan yang suka menulis dan travelling. Blogger | Writer | Chef of Family | Traveller | Buzzer. Untuk kerjasama bisa menghubungi via email : eri.udiyawati@gmail.com or WA : 0812 2562 9943. Media sosial Instagram : @es_pania , Twitter : @espaniaudya

17 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *