Tag Archives: #DesaWisata

Tempat-tempat yang Wajib Kamu Kunjungi di Desa Serang

Hallo, teman-teman, apa kabar? Setelah lama ‘tidur’ karena liburan akhirnya saya bisa menulis lagi tentang travelling. Kali ini saya akan menyampaikan sebuah destinasi wisata yang terletak di Kabupaten Purbalingga. Ini sebuah desa wisata yang mana dari sananya, maksudnya dari zaman dulu mungkin sejak bumi ini tercipta, desa ini sudah menyuguhkan banyak keindahan. Bahkan, sebagian traveller mengatakan, “Tuhan menciptkan tanah ini dengan sangat bahagia,”

Bagi pecinta alam tentunya sudah paham di desa mana yang saya maksud. Yakni Desa Wisata Serang. Di desa ini juga terdapat posko pendakian Gunung Slamet. Banyak para pendaki yang dari berbagai daerah yang sering melalui jalur dari Pos Bambangan, Serang untuk mendaki Gunung Slamet. Lalu, apakah hanya Gunung Slamet yang bisa kita nikmati dari Desa Serang? Tentu tidak, karena masih banyak tempat yang wajib kamu kunjungi di Desa Serang. Apa saja? Cek di bawah ini :

1. D’Las Serang

Ikonik Rest Area Serang. Foto from @minggat_an

Siapa yang tidak mengenal D’Las atau Rest Area Serang? Lokasi yang cukup luas dengan beberapa gazebo, orang berjualan makanan, ada pula kolam atau danau buatan yang mana kita bisa mengelilingi dengan ‘bebek ontel’. Ditambah lagi konsep taman juga hadir di sini, sehingga banyak warga yang berkunjung untuk menikmatinya. Selain itu, ada aula yang cukup luas, tempat ini sering dijadikan sebagai event atau acara tertentu. Jadi, ramai deh setiap hari. Dan hal yang paling menyenangkan, masuk di sini itu murah meriah. Pas kami masuk, dua orang dengan satu unit sepeda motor, itu cuma ditarik Rp 5.000, kan murah banget. Sehingga di D’Las ini menjadi idaman bagi siapa saja yang melewati Desa Serang. Termasuk kami.

Continue reading

Kampung Warna Bobotsari, Wisata Murah Meriah yang Full Colour

Purbalingga, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki sejuta Pesona Indonesia. Terutama dari unsur alam yang masih asri dan sangat sejuk. Sehingga tak heran ketika berkunjung ke wilayah ini akan menemui banyak desa wisata. Dari keindahan alam, sungai, air terjun dan perbukitan menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan. Dengan begitu wisata di Purbalingga banyak variasi dan pilihan.

Kreatif ya.. dindingnya dicat begini

Seiring perkembangan dunia wisata yang terus melejit, berbagai inovasi dan konsep wisata baru pun dibangun. Seperti halnya Kampung Warna Bobotsari yang baru lahir di bulan Agustus 2017 kemarin. Belajar dan memahami dari Rainbow Village di Semarang, sebuah kampung kumuh di Bobotsari pun disulapnya menjadi sebuah kampung yang penuh warna dan bersih. Kampung ini memang dulu memiliki sejarah yang cukup kelam atau buruk. Banyak kawula mudanya yang menjadi preman dan tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Namun, saat ini kampung yang terletak di sebuah Gang RT 03 RW 08 Kampung Baru, Bobotsari, Purbalingga; kini menjadi tempat yang menyenangkan bagi setiap pengunjungnya.

 

Baca juga : Menikmati Keasrian Alam dan Serunya Giant Swing di Kampung Kurcaci

 

Sapta Pesona harus ada ya..

Bermodalkan tiket yang sangat murah meriah, karena hanya Rp 3.000 per orang, dan parkir kendaraan Rp 2.000 untuk sepeda motor, kita bisa menikmati lukisan warna-warni yang ada di dinding rumah. Selain itu, hal yang menarik dari kampung ini, aliran sungai yang dulunya keruh dan hitam, sudah mulai jernih dan tidak ada kotoran. Sampah-sampah mulai dibersihkan, bahkan sampah plastik dijadikan hiasan di sepanjang jalan. Sungguh kreatif dan inovatif dari warga kampung tersebut.

Baca juga : Konsep Klasik Berikan Warna Beda dari Kedai Kebun

 

Aliran sungainya sudah mulai bersih

Istirahat dulu lah… di belakang saya itu ada cafe lho..

Nah, sekarang, bisa banget nih, kita-kita jalan menikmati lukisan 3D dengan warna warni yang dipadukan dengan serasi. Saya ke sini sampai lupa waktu lho, padahal belum muter ke semua tempat, tapi sudah lama juga keliling kampung. Selain itu, di sini juga banyak penjual jajanan di warung-warung kecil. Ada juga cafe sederhana, jadi enggak perlu khawatir kalau kita lapar atau kehausan, karena banyak yang jualan.

Please jangan PHPin akuuu..

Emotmu yang mana?

Di sini memang banyak lukisan yang menempel ke dinding atau pintu rumah-rumah warga. Yang saya herankan itu, mereka ternyata sangat berbakat dalam membuat sebuah lukisan. Karya mereka ini benar-benar asli dari kerja keras sendiri. Mengapresiasikan warna menjadi sebuah gambar yang menarik dan memikat, tentulah bukan hal yang mudah.

Yang.. hujan turun lagi..

Kampung Warna Bobotsari ini menjadi sebuah destinasi pilihan di Pubalingga, selain harganya yang terjangkau, lokasinya juga dekat dengan terminal Bobotsari. Sehingga bagi yang tidak membawa kendaraan sendiri, sangat mudah untuk menuju lokasi dengan menggunakan transportasi umum.

Pesona Surga yang Tersembunyi dari Bukit Mertelu

Assalamu’alaikum wr wb…

Selamat berakhir pekan, teman-teman. Adakah rencana jalan-jalan untuk sekedar membuang penat atau untuk menikmati keindahan alam bumi Indonesia yang tercinta ini? Karena sudah menjadi rahasia umum ya, bahwa Indonesia merupakan tanah surga yang memiliki kesuburan, keindahan dengan segala bentuk perbedaan yang tersaji menjadi dalam sebuah nusantara yang terbentarang luas.

Berbicara tentang keindahan alam di setiap sudut pasti ada. Bahkan masih banyak surga yang tersembunyi di negeri ini. Seperti halnya perjalanan yang baru saja saya lakukan. Letaknya tidak jauh dari desa tempat tinggal saya karena memang ini masih dalam satu wilayah kecamatan. Bisa dikatakan tetangga desa. Saya baru menyadari bahwa ada tempat wisata yang benar-benar ikonik dan sangat memesona.

Baca juga : Owabong Waterpark, Primadona Wisata Purbalingga

Karena masih tetangga desa, saya menuju lokasi melewati jalur terobosan alias jalur alternatif. Lebih cepat sampai dan memangkas jarak ketika dibandingkan melalui jalur utama (jalan raya).

Ngomong-ngomong dari tadi bahas lokasi, memang mau ke mana?

Jadi begini loh, saya dan Pak Suami, ceritanya sedang refreshing biar otak kembali segar setelah seminggu berkutat dengan pekerjaan. Inginnya sih ke pantai, cuma jauh, jadi kami putuskan untuk ke Bukit Mertelu yang terletak di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Tempat ini menjadi pilihan kami, selain dekat, kami juga penasaran ada apa sebenarnya di Bukit Mertelu tersebut.

Setelah sampai di lokasi tempat parkir, kami harus jalan kaki dengan jalan yang cukup menanjak. Jaraknya sekitar 1 – 2 km. Yaa, hitung-hitung sambil olah raga begitu. Jalan yang kami daki pun menyuguhkan pemandangan yang cukup menawan. Udara yang sejuk dan segar membuat kami semakin semangat untuk menuju Bukit Mertelu.

Ini pintu gerbang menuju Bukit Mertelu.

Di situ terpampang jelas tentang Sapta Pesona yang memang harus ada di setiap lokasi wisata. Ditambah ada beberapa peraturan yang harus ditaati oleh pengunjung, salah satunya adalah ketika turun hujan, seluruh pengunjung wajib turun dari Bukit Mertelu. Hal ini tentunya untuk menjaga keselamatan seluruh pengunjung.

Jalan setapak yang harus dilalui. Semangaaat..!

Di sepanjang yang kurang lebih 2 km ini, ada beberapa spot untuk berselfie atau hanya sekedar duduk-duduk santai dan beristirahat. Seperti halnya yang kami lakukan ini.

Capek? Tenang, di sepanjang jalan banyak tempat duduk untuk istirahat..

Bahkan, ada juga nih, tempat duduk, sekaligus tempat buat foto-foto, ibarat sarang burung namun luas dan mampu untuk kita bersandar sejenak.

Lelah ini tak seberapa jika dibandingkan dengan janjimu yang membuatku lelah menunggu. Eaa…

Ketika langkah ini belum sampai jua, ternyata masih ada sajian-sajian menawan dari jalan ke Bukit Mertelu.

Ternyata, di tengah-tengah perjalanan ini, ada sebuah taman kecil. Ini pertanda perjalananmu sebentar lagi sampai 🙂

Jangan lupa juga untuk mampir di Gubug Santai. Ada ayunannya juga loh..

Dengan penuh keceriaan kami melangkah yang akhirnya membawa ke sebuah tempat di mana mata ini disuguhkan dengan pemandangan yang ciamik. Aduhai sekali indahnya.

Sebentar lagi sampai puncak. Dari sini saja, pemandangan sudah terlihat menawan.

Puncak sudah terlihat

Setelah memakan waktu dua puluh menitan, akhirnya kami sampai juga di Puncak Bukit Mertelu. Pesona alam yang apik itu sungguh benar-benar memanjakan mata setiap pengunjung. Tak heran, setiap hari selalu ramai dikunjungi. Setiap harinya sedikitnya dua ratus wisatawan datang. Mereka yang datang juga bukan hanya dari daerah sekitar melainkan dari luar Kabupaten Purbalingga seperti Banyumas, Tegal, Brebes dan Pekalongan. Meski perlu perjuangan terlebih dahulu karena berlajan kaki melewati jalan setapak, tapi semua itu lunas terbayarkan dengan sesuatu yang sangat indah bak surga.

Yee.. akhirnya sampai juga

Pantas udaranya dingin, ternyata ketinggian Bukit Mertelu ini mencapai 913 MDPL

Dari ketinggian yang melebihi 900 meter di atas permukaan laut, tentunya tempat ini sangat cocok untuk menghadirkan spot selfie dengan tema alam. Melihat hamparan luas dari hijaunya hutan belantara. Mengingatkan pada kita, bahwa diri ini sungguhlah kecil dibandingkan dengan alam yang begitu luas dan elok ini. Mengajarkan pada kita juga, bahwa alam yang indah ini harus tetap terjaga dan lestari, bukan untuk dirusak. Biarkan keelokan itu terus ada hingga nanti, karena ini merupakan salah satu Surga Alam Indonesia yang masih tersembunyi.

 

Baca juga : Desa Panusupan, Tempatnya Surga Alam Indonesia

 

Dari sini kita bisa melihat keindahan yang ada di bawah

Yeah, bisa nangkring juga di sini.. 😀

Tempat untuk menikmati Bukit Mertelu juga bukan hanya itu saja, tetapi ada sebuah ayunan yang bisa kita gunakan. Ini merupakan salah satu spot favorit bagi pengunjung. Karena apa? Sambil berayun-ayun layaknya di atas awan, terus diambil foto, tentunya sangat menarik dan eksotis. Berlatar sebuah perbukitan hijau, sambil tersenyum menaiki sebuah ayunan. Rasa bahagia dan puas pun ada di dalam hati.

Ayo coba ayunan langit ini. Seru loh…

Hadirnya wisata baru di Bukit Mertelu ini, menambah tujuan wisatawan untuk menikmati keindahan yang ada di Purbalingga. Juga merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya, karena Bukit Mertelu masih satu daerah dengan saya, yakni sama-sama beralamatkan di Kecamatan Mrebet. Selain itu, masih banyak alasan mengapa saya bangga dan merekomendasikan Bukit Mertelu menjadi salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi, di antaranya :

1. Harga tiket yang super murah
Tiket masuk hanya dikenai biaya Rp 5.000 per orang, tiket parkir cuma Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5.000 untuk kendaraan roda 4. Dan bagi yang ingin menikmati ayunan langit, cukup membayar tambahan Rp 5.000; sangat murah kan?

2. Adanya ayunan langit
Ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ayunan langit, rasanya memang rada deg-deg ser gimana gitu ya? Tapi tenang saja, karena sudah ada perlengkapan safety yang mendukung. Jadi siapa saja bisa menikmati ayunan langit dengan tenang dan aman.

3. Panorama alam yang menawan
Pemandangan yang menakjubkan hadir di sini. Kita juga bisa menikmati indahnya hamparan alam yang sangat eksotis.

Nah itu beberapa alasan mengapa perlu berkunjung ke Bukit Mertelu. Untuk berkunjung ke sini memang perlu energi, karena harus mendaki melalui jalan sempit. Untuk itu, saya bagi tips sedikit nih bagi teman-teman yang mau main ke sini.

  • Tentu saja hal yang utama adalah Doa agar kita selalu selamat
  • Jangan lupa sarapan agar stamina mendaki itu full
  • Bawa bekal secukupnya, bagi yang mudah haus jangan lupa bawa minum lebih
  • Gunakan pakaian yang nyaman untuk tracking jalan yang menanjak
  • Gunakan sepatu atau sandal yang nyaman (bukan tipe high melainkan cats atau sandal pendaki)
  • Kalau perlu bawa perlengkapan P3K sederhana seperti minyak kayu putih dan plester
  • Tambahan lagi nih, biar foto-foto yang dihasilkan okay punya, teman-teman datangnya pas hari cerah atau jam 11 siang. Itu merupakan saran dari pengelola tempat wisatanya. Jangan kayak kami ya, yang jam 9 pagi sudah sampai, jadi kabut masih tebal. Hehehe

Untuk rute menuju ke Bukit Mertelu, saya bagikan dari pusat kota Purbalingga ya. Dari arah kota Purbalingga menuju ke utara (arah Bobotsari), hingga sampai di pertigaan Selaganggeng. Kemudian ambil kiri yang rute menuju Desa Wisata Serang. Lurus hingga sampai di Desa Sangkanayu yang hampir perbatasan dengan Desa Serang, ada pertigaan kecil dengan plang bertuliskan ‘Wisata Alam Bukit Mertelu’. Ambil kanan mengikuti jalan sampai mentok ke lokasi Parkir.

 

Baca juga : Kampung Warna Bobotsari, Wisata Murah Meriah yang Full Colour

 

Itulah tentang perjalanan kami untuk mengeksplor alam yang ada di daerah kami sendiri. Kalian patut untuk berkunjung ke sini, dijamin tidak akan menyesal. Semoga bermanfaat, terima kasih sudah membacanya, dan Wassalamu’alaikum wr wb.

Serunya Susur Sungai di Tengah ‘Black Canyon’ Purbalingga

Hari Minggu atau hari libur lainnya, bisa kita manfaatkan dengan berbagai macam aktivitas. Bagi yang suka shoping, tentunya langsung pergi ke swalayan, bagi yang suka memasak, tentu pergi ke pasar dan langsung menuju ke dapur. Dan, bagi manusia-manusia yang suka tantangan seperti saya, bisa banget untuk menjajal sesuatu yang baru dan bisa memacu adrenalin. Terlebih saat ini banyak sajian wisata yang memerikan sensasi baru yang lebih menantang. Salah satunya Susur Sungai Watu Mujur di Dusun Batur, Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.
Wisata susur sungai ini tergolong menantang karena kita harus menerjang arus sungai. Persiapan yang dilakukan juga harus benar-benar matang, dari memakai peralatan safety seperti pelampung dan helm. Yang kemudian dilanjutkan pemanasan agar tidak terjadi cedera pada tubuh. Selanjutnya, kita jalan menuju Sungai Watu Mujur.
Yuk, pakai pelampung dan helm
Okay, guys, kita pemanasan dulu yaks
Jalan setapak ini menjadi saksi kami semua para petualang tangguh (anggap saja begitu) untuk melakukan petualangan. Sampainya di sungai, mata kita langsung tertegun, karenanya di sungai ini airnya begitu jernih dan sangat dingin.
Ini jalan menuju sungai buat petualang
Okay, adventure kita mulai
Dan, perjalanan pun dimulai. Selangkah demi selangkah kita berjalan. Melawan arus deras namun mengasyikan, terlebih kanan-kiri sungai adalah sebuah tebing dengan bebatuan warna hitam mengkilap. Dan orang-orang yang datang di sini menyebutnya sebagai ‘Black Canyon’ Purbalingga. Suguhan panorama alam ini sangatlah sempurna. Membuat siapa saja yang datang menjadi rindu dan ingin kembali lagi untuk menikmati setiap tantangan.
Perjalanan seru dimulai
Istirahat sejenak boleh lah ya?
Keseruan terjadi di setiap langkah. Pasalnya, arus deras harus kita hadang dengan cara berjalan kaki, bahkan berenang, karena ada titik di mana terdapat ‘kedung’ atau genangan air di sungai ini. Belum lagi ketika memasuki aliran air yang sangat sempit karena terhimpit oleh tebing. Bahkan, kita sampai merayap-merayap untuk melewati tempati ini. Tidak mudah juga berjalan merayap di tebing dengan terjangan air yang deras. Keseimbangan tubuh dan pijakan kaki haruslah tepat.
Keep smile, Genks..
Airnya itu loh, jernih banget
Dan susur sungai ini tidak hanya sejalan melawan arus, hingga pada titik tertentu, kita kembali ke arah semula, mengikuti arus sungai. Rasa capek dan lelah itu terbayarkan dengan keseruan dan tingkat adrenalin yang tinggi. Tak heran saat ini wisata susur sungai di Dusun Batur menjadi primadona wisatawan untuk menjajal tantangan baru dan memacu adrenalin. Selain itu, mereka juga bisa menyegarkan kembali otak dan hati yang sudah penat dan jenuh akan sejumlah pekerjaan yang terus menurus hadir.
Okay, kita capek..

 

Jadi, kalian suka sesuatu yang menantang? Coba deh, Susur Sungai Watu Mujur di Dusun Batur ini.

Menikmati Keasrian Alam dan Serunya Giant Swing di Kampung Kurcaci

Hallo guys, bentar lagi akhir tahun nih. Sudah punya rencana liburan ke mana? Kali ini saya akan menceritakan pengalaman berlibur di sebuah hutan namun ada atraksi yang sangat menantang. Tantangannya ini sangat luar biasa loh, guys. Saya sampai dibuat menjerit keras loh. Mau tahu bagaimana cerita lengkapnya? Yuk, simak…
Di sini alami, jangan rusak dengan buang sampah sembarangan ya.
Tepat di tanggal 12 Desember 2016, kami berkunjung ke sebuah lokasi desa wisata. Desa ini memang sudah terkenal dari dahulu akan agro wisatanya. Namun, tempat yang kami datangi ini tergolong destinasi baru. Tema yang diusung memang beda dari yang lain, yakni Keindahan, Keasrian dan Kesejukan. Nyatanya lokasi ini adalah sebuah hutan. Pohon-pohon menjulang tinggi mencakar langit membuat udara terasa segar nan bersih. Dan tempat ini disebut sebagai Kampung Kurcaci. Ini bukan di New Zealand tempatnya Bilbao Begins ya, guys. Melainkan di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Sebelum masuk, kita pose dulu deh
Lokasi Kampung Kurcaci ini sangat sejuk. Bahkan, dingin karena berada di kaki Gunung Slamet. Hutan seluas 3.5 hektar ini dipadati pohon damar yang telah berusia ratusan tahun lalu. Sehingga menjadikan suasana lebih adem dan nyaman untuk bersantai.
Di salah satu Rumah Kurcaci, duduk bersantai
Untuk sejarah terbentuknya Kampung Kurcaci, bukan maksud penduduk setempat yang memang bertubuh kecil. Namun, lebih menggambarkan filosofi bahwa manusia itu sangatlah kecil dibanding dengan keindahan alam yang begitu luas. Pepohonan yang menjulang tinggi, dan langit yang begitu megah, membuat kita sangat kecil bagai kurcaci. Dengan semua itu, tempat yang luas ini dinamakan sebagai ‘Kampung Kurcaci’.
Pokoknya nyesss.. adem banget 🙂
Sesuai dengan konsep yang diusungnya, tempat ini begitu menyatu dengan alam. Dari depan pintu gerbang saja, sudah terasa nyesss, adem banget deh.
Salah satu rumah panggok yang menyatu dengan wahan Outbond
Wahana yang ada di sini terdapat beberapa rumah panggok yang terbuat dari bambu dan kayu. Bisa langsung menyatu untuk outbond juga. Tempat duduk terbuat dari ranting-ranting pohon ini membuat suasana kian alami. Terlebih desiran angin sepoi-sepoi membelai dengan mesranya. Aaah, jadi betah di sini. Kemudian, masuk lagi, terdapat Rumah Kurcaci yang menjadi Ikon wisata ini. Kita bisa berfoto-foto di sini sepuasnya, tapi jangan lupa ya, gantian sama yang lainnya. Selain itu, bisa juga menyapa burung hantu yang ada di depan pintu rumah kurcaci ini.
Hei, ada burung hantu di sini (sebelah kanan loh ya)
Dan, kalau kamu pecinta tantangan serta gila akan memacu adrenalin. Coba yang ini deh, Giant Swing di Kampung Kurcaci. Atraksi ini langsung ditangani oleh para ahli dari SAdv Outbond Provider. Mereka bekerjasama untuk memberikan sensasi dan pengalaman baru bagi wisatawan. Dan, yang terpenting keamaan mereka yang melakukan Giant Swing.
Perlengkapan safety udah siap, yuk Giant Swing
Dan saya pun, tidak mau ketinggalan untuk mencobanya, sungguh rasanya deg-degan banget. Dari memakai perlengkapan untuk safety, sampai ditarik ke atas, rasanya nyer-nyeran. Terlebih, tali yang untuk menarik dilepas. Seeeeeeeeerr.. rasanya jantung ini mau copot. Huhuhuhu, aku terombang-ambing dengan satu tali. Teriak histeris sambil ketawa-ketawa gitu. Hihihihi…
Entah apa rasanya, yang jelas seruuuuuuu…. 😀
Pas udah selesai, kaki berpijak di tanah rasanya gemeteran. Namun tetap bersyukur jantung ciptaan Maha Kuasa itu tetap sehat dan saya masih berpijak di bumi belum melayang.
Oh ya, wisata Kampung Kurcaci ini, suatu wilayah di Purbalingga yang merupakan bagian dari Paguyuban Wisata Purbalingga, loh. Sehingga pengelola baik pengurus maupun yang ada di tempat wisata ini, sudah terlatih dengan baik. Selalu memberikan senyum dan sapa yang ramah kepada setiap wisatawan. Hmm, membuat semakin kerasan dan nyaman saja di Kampung Kurcaci.

 

Untuk berkumpul bersama temen-temen itu seru dan menyenangkan 🙂

 

Lalu, bagaimana dengan biayanya? Mahalkah?

 

Tenang, di wisata ini biayanya sangat terjangkau. Untuk tiket masuk hanya dikenakan Rp 5.000 per orang. Sedang parkir kendaraan roda 2 hanya Rp 2.000 per kendaraan. Sedangkan untuk atraksi Giant Swing, dikenakan biaya sebesar Rp 20.000. Murah meriah, kan? Jadi, kapan ke Kampung Kurcaci?

Jembatan Cinta, Tempat Favorit untuk Mengabadikan Kisah Asmara

Dari namanya saja terdengar begitu romantis dan syahdu. Membuat semua orang berdatangan untuk mencari tahu. Apa itu Jembatan Cinta? Benarkah ada banyak cinta di sana?
Jembatan yang terbuat dari bambu wulung dan berbentuk menyerupai hati menjadi tujuan utama wisatawan. Selain akses yang cukup mudah, karena tidak perlu melakukan pendakian, di Jembatan Cinta pun bisa menikmati pemandangan alam yang sejuk, bersih dan penuh keindahan.
Kolam cinta yang menjadi ikon Jembatan Cinta selalu ramai
Tak heran saat ini pengunjung antusias untuk datang ke jembatan yang berbentuk hati ini. Tak sedikit pula mereka-mereka datang dengan orang terkasih seperti keluarga atau sahabat. Bahkan tak sedikit jua yang melakukan prosesi foto Pre Wedding di Jembatan Cinta. Iya, memang sangat menarik, sesuai temanya tentang ‘Cinta’, wisatawan pun turut mengabadikan moment bahagianya di sini.
Cie Pre Wed
Dengan udara sejuk dan angin semilir yang membelai mesra, ungkapan isi hati kepada orang terkasih menjadi sangat sempurna. Ditambah lagi, gemerciknya air dari kolam cinta membuat suasana semakin romantis dan menenangkan hati.
Kalian, selamat ya, terus yang nulis ini kapan? -_-“
Dan, bagi yang sudah berkeluarga, mereka juga bisa membawa anggotanya untuk menikmati pesona di Jembatan Cinta. Berbagi canda dan tawa bersama belahan jiwa yang telah ditakdirkan Tuhan, sungguh terasa indah dan harmonis.
Hei.. foto keluarga, yang nulis makin baper :3
Lalu, apa wisata ini hanya untuk mereka-mereka yang berpasangan? Terus yang single alias jomblo atau segala macam namanya enggak boleh datang ke situ?
Suka sama foto ini ^_^
Tentu saja boleh, karena wisata ini bebas bagi siapa saja. Termasuk datang sendiri pun tak masalah. Keindahan dan kenyamanan di Jembatan Cinta membuat hati yang gundah akan hilang. Mengubur semua kenangan pahit dan mencoba menatap masa depan lebih baik. Aora positif itu masuk ke sanubari secara alami, bukan karena magis atau apa, tapi karena pemandangan di Jembatan Cinta yang luar biasa indahnya, mampu menyihir hati yang sedang galau menjadi ceria. Ya, begitu, karena alam dengan segala bentuk keasriannya selalu memberikan hal positif, terutama bagi jiwa-jiwa yang gersang.
Cinta penuh kelembutan dan kemuliaan, di dalamnya terkandung sifat-sifat saling menolong, saling mengasihi dan menghormati. Senandungnya merdu menghibur sekaligus menggoda. Munculah kenangan-kenangan lama, terlintas jelas bayang-bayang keanggunannya dan kesempurnaannya di kelopak mata, terbuai pada harapan-harapan akan kehadirannya yang menyenangkan. Setiap hari tak pernah bosan bersenandung atau mendengarkan bait-baitnya. — Namun pada kenyataannya kau tinggalkanku sendiri dalam sepi. Menantimu hingga melelahkan. Tapi, aku tetap bersyukur, alam ini masih memberikan kesejukan dan kedamaian untuk hati yang rapuh. — Lokasi : Jembata Cinta, Destinasi Wisata Pring Wulung, Desa Panusupan. Inframe : wisatawan. Photo take by @glaha03 — #Photography #outofthephotography #JembatanCinta #PurbalinggaHitz #purbalinggakeren #JustWrite #Puisi #Nature #BackToNature #BrokenHeart #Alone
A photo posted by Ery Espania Udya (@es_pania) on
Selain itu, di kawasan Jembatan Cinta, terdapat wisata edukasi yang bertajuk tanaman. Membelajari teknik tanaman dengan sistem bioflok (sebuah sistem penanaman sayuran dengan menggunakan pipa-pipa). Sehingga wisata ini sangat menarik dan cocok bagi siapa saja termasuk anak-anak. Tak heran jika hari libur, ratusan pengunjung datang untuk menikmati wisata yang satu ini.

Baca juga : Menikmati Sensasi Keindahan Alam dari Jembatan Cinta
Untuk lokasi wisata ini terletak di Dusun Tipar, Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

 

Jadi, libur akhir tahun ini mau ke mana? Mending ke Jembatan Cinta aja yah. ^_^

Photo take by Glaha Photography.

Pingit Kembar, Tempat yang Cocok untuk Hati yang Gelisah

Hallo, saatnya berbagi pengalaman jalan-jalan. Kali ini jalan-jalannya nyantai banget, enggak perlu susah payah mendaki dan berjalan jauh. Cukup dari tempat parkir kendaraan jalan beberapa meter langsung deh masuk tempat wisatanya. Ini masih tentang wisata alam, tetapi bukan bukit, bukan jembatan yang seperti sebelumnya atau bukan campingyang ditemani sinar rembulan. Lalu apa?
 
Ini sebuah tempat wisata baru, di mana kita bisa menikmati tanpa harus capek namun kegalauan dan kegundahan hati aku terusir. Ye, asyik banget kan kalau begini, apalagi yang baru berantem sama kekasihnya, hihihihi, hayo siapa? Apa? Baru putus sama pacar? Wah, wah, enggak usah galau enggak usah risau, biarkan saja dia pergi toh pasti akan menemukan pengganti yang jauh lebih baik. Tuhan yang Maha Kuasa dan Adil itu tidak akan pernah membiarkan umatnya sengsara, apalagi hanya karena cinta. Cieeee, malah sok nasehatin.
Balik ke topik awal, jadi begini, waktu itu saya sedang merasa lelah karena sudah mendaki, capek dan pengen menikmati sesuatu yang seger-seger tapi ogah naik bukit karena paginya baru saja turun. Salah seorang teman akhirnya menyarankan untuk berkunjung ke salah satu wisata di Desa Panusupan, wisata baru yang unik dengan nuansa yang berbeda. Tanpa pikir panjang ya aku iyain aja.
 
Untuk menuju lokasinya juga tergolong mudah. Setelah masuk ke loket, dan menuju parkir kita turun melewati jalan setapak yang hanya beberapa meter. Sampai di sana, langsung, ‘deg’, jantung ini rasanya berhenti beredetak untuk sejenak. Belum apa-apa aku sudah disambut dengan suara air derasnya air sungai yang mengalir. Ditambah sapuan angin ke tubuhku yang mulai lelah terlebih hatiku yang sedang rapuh.
Suasananya begitu hening, mendamaikan dan menyentuh. Sejuk namun tetap terasa hangat seperti pelukan seorang ibu. Menyejukan seperti kata mutiara sang pujangga untuk kekasih hatinya. Ah, indah sekali tempat ini. Aku pun melanjutkan langkah kaki mencari tempat nyaman dan spot indah untuk diabadikan.
Di atas batu besar, ada gubuk batunya loh
Baru melangkah berapa meter lagi, aku melihat sebuah bebatuan yang besar. Ternyata sungai ini sangat kaya akan batuan besar dan membuat penasaran, batu segede ini emang dari mana ya? Dan pengelola pun bercerita bahwa batu ini merupakan gugusan bintang yang telah jatuh berabad-abad lampau lamanya.
Dari batu besar, aku menuju ke sebuah taman. Masih tampak baru dibuat, karena tumbuhannya masih jelas belum berkembang. Tapi aku berharap semoga pas aku ke sini lagi sudah banyak bunga yang bermekaran. Tak lupa juga diriku ini duduk di sebuah gubuk pinggir sungai untuk mendengarkan gemerciknya air yang menjadi melodi indah di telinga.
Oh Tuhan, rasanya hatiku yang lara telah hanyut terbawa arus sungai ini. Hingga perlahan senyum simpul yang murni tersungging di bibirku. Bukan senyum palsu lagi seperti dulu, bukan senyum formal yang sering aku berikan untuk menghormati orang. Tapi, ini kali pertama rasanya aku bisa tersenyum dengan murni dari hati. Semua risau dan kegundahan hati menghilang terbawa arus dan memaksaku untuk membuka lembaran baru. Sungguh luar biasa tempat ini, begitu tenang dan memberikan energi positif.
Airnya loh, jernih banget
Dan, aku sampai lupa memberikan nama tempat ini. Wisata ini bernama Taman Pingit Kembar. Disebut ‘Pingit Kembar’, berasal dari kata ‘Pingit’ yang berarti ‘Kedung/Pusaran Air’, dan ‘Kembar’ karena ada dua kedung yang terdapat di tempat ini. Selain itu, airnya begitu jernih hingga tak bisa kupungkiri lagi, bahwa ini air murni dari akar tumbuhan di sekeliling sungai.
Untuk menikmati wisata ini juga tidak perlu merogoh dompet terlalu tebal, cukup bayar Rp 5.000 saja kita sudah bisa menikmatinya. Bisa mengajak teman, saudara, bahkan anak kecil. Tempatnya luas dan bersih, terdapat juga toilet sehingga ketika orang mau buang hajat tidak bingung. Kan tidak mungkin kita buang hajat di sungai, nanti sungainya kotor.

 

Pesan saya, kalau teman-teman ke sini, jaga ekositem lingkungan di sini ya. Jangan buang sampah sembarngan dan merusak tanaman yang ada, apalagi sampai mengotori sungai. Semua ini tercipta karena lingkungan yang bersih dan ekosistem yang terjaga, sehingga kita semua bisa menikmati pesona alamnya.

Selalu Ada Cerita untuk Kembali ke Jembatan Selfie

Sebagai cewek yang ngaku Blogger Traveller (meski cuma lingkup Kabupaten :D), saat ini saya sering berkeliaran di beberapa tempat wisata. Meski tempat tersebut pernah saya kunjungi, tapi rasa penasaran masih tinggi.
Beberapa bulan yang lalu saya berkunjung ke Puncak Sendaren yang memiliki Jembatan Selfie ngehitz di kalangan traveller. Sebuah objek baru di di Purbalingga ini mampu menyedot ratusan pengunjung per harinya.
Kebetulan pas saya datang di saat siang bercampur awan gelap, hujan dan cerah kembali. Mungkin cuaca saat itu tahu kalau yang datang itu ada orang lagi galau seperti saya. #Ehh. Dari cuaca yang tidak menentu saya justru sangat bersyukur karena bisa mengetahui secara langsung keadaan Puncak Sendaren dengan berbagai cuaca. Negeri di atas awan pun patut disematkan ketika kabut mulai menurun ke bawah pegunungan.
Semenjak kunjungan yang pertama itu, banyak teman-teman yang menawari saya camping di sana. Katanya bagus banget pemandangan di pagi harinya. Pas dengernya si antusias banget, cuma pas mempraktekkannya saya kebanyakan alasan gak bisa karena sok sibuk dengan kerjaan. Dan Alhamdulillah, 20 Agustus 2016, akhirnya saya jadi naik ke Sendaren lagi.
 
Perjalanan dari pintu loket dimulai sehabis Isya, jam delapan malam. Memilih perjalanan malam, bertujuan agar tidak terlalu ngoyo sayanya. Ya meskipun beberapa menit saya harus berhenti untuk istirahat dan minum. Namun, ada pesona sendiri di balik derita perjalanan yang gelap.
Kita ditemani rona pijar rembulan yang terang dengan warna putihnya. Memberikan keelokan tersendiri di malam hari dan berpadu kerlap-kerlip lampu jalan dan rumah di bawah sana. Wajah malam yang mencekam pun berubah menjadi gemerlapnya malam.
Setelah memakan waktu dua jam, akhirnya kita sampai di Puncak Sendaren. Langsung saja kita menyiapkan tenda untuk istirahat (teman-teman ding, saya sibuk nyiapin untuk isi perut). Tenda jadi dan kita semua sudah makan, lanjut deh untuk istirahat. Masuk ke tenda masing-masing. Oh ya, rasanya tidur di pegunungan itu sesuatu, alas matras dan tentunya kasur alami dari tanah. Kebayang gimana empuknya, seperti kasur yang udah gak dijemur bertahun-tahun. Tapi, yang namanya ngantuk, ya udah, bisa tidur nyenyak sampai subuh.
Pagi hari langsung deh ke kamar kecil (tersedia kamar mandi meski kecil dan sederhana) untuk siap-siap Shalat Subuh. Setelah kelar, bermake up lah kita, eh bukan kita, mereka aja, saya gak ikutan.
 
Selanjutnya beberes tenda dan lain-lain, kalau saya asyik nyelfie. Hihihihi
Dengan suasana yang masih pagi, tentunya berhasil mengambil Siluet Jingga dari Sang Surya. Hembusan angin yang lembut berpadu dengan pemandangan yang sedap dipandang. Inilah surga dunia. Hingga saya terjebak dengan kamera ponsel. Ke setiap sudut untuk mengabadikan momen dan keindahan, terutama di Jembatan Selfie.
 
Setelah puas berfoto-foto, saatnya sarapan dengan mie instan, minumnya susu, cemilannya roti. Hahahaha yang penting praktis.

 

Saat pulang kita mengambil sampah-sampah yang ada. Karena sudah menjadi tanggungjawab kita semua, tidak boleh membuang sampah sembarangan. Di manapun, kapanpun, jaga kebersihan!

10 Alasan Mengapa Harus ke Desa Wisata Panusupan

Purbalingga, saat ini sedang gencar-gencarnya membangun desa wisata. Kerja keras tersebut pun membuahkan hasil. Hingga saat ini telah berdiri kokoh berbagai destinasi wisata, salah satunya Desa Wisata Panusupan.
Desa Panusupan ini menyajikan konsep yang unik dan kreatif untuk memberikan tempat rekreasi bagi pengunjung. Dari wisata minat khusus hingga wisata keluarga pun ada di sini. Bahkan, ada 10 alasan mengapa harus berkunjung ke Desa Wisata Panusupan. Ini dia :
  1. Rumah Pohon Kenangan
Rumah Pohon Kenangan, Puncak Batur
Rumah pohon ini terletak di Puncak Batur. Untuk menuju ke Rumah Pohon Kenangan, kita mendaki Bukit/Puncak Batur terlebih dahulu. Cape dong? Tenang, Puncak Batur ini tidak begitu terjal, bahkan cocok untuk pendaki pemula. Sampainya di atas, kita disuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Bahkan, bagi yang ingin menginap (camping) bisa kok.
 
Ayo ke rumah pohon kenangan..!
 
  1. Susur Sungai Kali Arus Watu Mujur
Ekspresi pada saat susur sungai
Ini sangat cocok bagi travelleryang mencintai tantangan dan memacu adrenalin. Lokasi Kali Arus ini masih terletak di dusun Batur, Desa Panusupan. Tepatnya di kaki Puncak Batur. Derasnya aliran sungai dan jernihnya air, membuat terpacu untuk melakukan penyusuran sungai yang indah.
Kali Arus yang penuh tantangan
So, merasa tertantang? Datang saja Kali Arus.
Kali Arus luar biasa jernih dan penuh tantangan
  1. Igir Wringin dengan Sunrise yang memesona
Sunrise dari Igir Wringin
Desa Panusupan memang terkenal dengan wisata minat khusus, yaitu pendakian. Meski pendakian di sini ditempuh jarak dan waktu yang tidak lama (karena hanya sebuah bukit). Namun, tak kalah indahnya untuk menikmati Sunrise yang memesona. Bagi pendaki yang bercamping di sini, tentunya di kala fajar menyingsing, sunrise akan terlihat dengan sempurna.
Penasaran? Yuk, camping di Igir Wringin.
  1. Jembatan Selfie Sendaren yang jadi buruan traveller
Jembatan Selfie, Puncak Sendaren
Jembatan selfie ini terletak di ketinggian 682 MDPL (Meter Di Atas Permukaan Laut). Wah, kebayangkan bagaimana perjuangannya. Meski demikian, traveller tidak pantang menyerah sebelum sampai puncak. Pasalnya, semua usaha yang ditempuh dibayar dengan suguhan keagungan alam yang luar biasa indahnya.
 
Dari Jembatan Selfie, kita bisa menikmati sungai-sungai yang mengir di bawah, bahkan negeri awan di Puncak Sendaren.
Berpose di Jembatan Selfie, Puncak Sendaren
Mau mencobanya?
  1. Susuh Manuk Unik
Bisa loh ngerasain jadi burung beneran di sini
Masih di Puncak Sendaren, juga terdapat susuh manuk (rumah burung) raksasa dan unik. Bentuk dan bahan pembuatannya persis rumah burung sesungguhnya yang ada di pohon. Susuh manuk ini juga sangat cocok bagi pengunjung yang ingin berfoto ria.
Cihuiii, senyum di susuh manuk
Pengen tahu rasanta rumah burung kayak apa? Yuk, ke Puncak Sendaren.
  1. Taman Srimbar Jaya

 

Desa Panusupan memang tidak kehabisan konsep untuk menarik wisatawan. Meski sama-sama puncak, namun Srimbar Jaya menyuguhkan wahana lain, sebuah taman bunga di atas ketinggian. Pendakian juga tidak memakan waktu yang lama karena Puncak Srimbar Jaya cukup rendah.
  1. Wisata Religi Ardi Lawet
Sebelum Desa Panusupan dibuka sebagai desa wisata. Ternyata, Ardi Lawet ini sudah dibuka untuk wisata religi. Dari dulu, Ardi Lawet terus dipadati pengunjung untuk ziarah ke makam Syekh Jambu Karang.
Berminat berziarah makam? Ardi Lawet harus dikunjungi.
  1. Curug Pesantren

 

Purbalingga sudah terkenal dengan sebutan kabupaten seribu curug (air terjun). Karena memang sebagian besar wilayah Purbalingga memiliki dataran yang cukup tinggi dan mempunyai air terjun, termasuk Desa Panusupan. Ada air terjun atau curug yang menjadi primadona bagi pengunjung.
Dijamin ketagihan kalau di sini
Untuk menuju lokasi memang kita perlu berjalan kaki, namun setelah sampai lokasi, dijamin semua lelah terbayar sudah. Dari derasnya air yang menetes ditambah begitu jernih, membuat pengunjung betah berlama-lama di Curug Pesantren ini.
  1. Jembatan Cinta yang fenomenal
Jembatan Cinta
Jembatan yang terbuat dari bambu ini memang fenomenal. Berbagai media elektrik maupun cetak memberitakan adanya jembatan yang terbuat dari pring wulung. Sesuai dengan namanya, lokasi ini disebut Wisata Pring Wulung, Desa Wisata Panusupan.
Yuk ah, selfie di Jembatan Cinta
Dengan desain yang unik dan menyerupai bentuk hati (baca : cinta) sebagai simbol utama, maka Jembatan ini dinamakan Jembatan Cinta.
Selain itu, untuk akses jalan menuju lokasi ini tergolong mudah. Para pengunjung tak perlu repot-repot mendaki bukit terlebih dahulu. Dari area parkir, langsung masuk loket, dan menuju lokasi wisata. Di sini juga cocok untuk berlibur bersama keluarga tercinta.
Ingin menikmati fenomenalnya seperti apa? Yuk, singgah di Jembatan Cinta.
  1. Orang-orangnya ramah
Orang-orang di Panusupan itu ramah-ramah semua ^_^
Tak lengkap rasanya jika sebuah desa wisata menyuguhkan keindahan wisatanya saja. Dan, di Desa Wisata Panusupan ini, sangat lengkap, selain wisatanya yang lengkap, orang-orang di sini pun ramah-ramah. Yang menariknya, mereka itu sudah lahir dari turun temurun memiliki sifat yang baik. Sangat-sangat cocok untuk ditiru.
Bahkan, saya selalu ingin datang ke sana untuk bersilaturahmi dengan mereka. Saling berbagi info yang bermanfaat tentunya.

 

Nah, itu dia 10 alasan mengapa harus datang ke Desa Panusupan. Dijamin gak rugi deh. Ayo, rencanakan libur panjang nanti di Desa Wisata Panusupan. Akan ada acara besar loh di hari libur lebaran ini. 

Menikmati Sensasi Keindahan Alam dari Jembatan Cinta

Wisata di Purbalingga saat ini terus digalakan. Potensi alam yang masih cantik dan kultur yang memadai, membuat Purbalingga mampu menghadirkan berbagai destinasi wisata. Dari Desa Panusupan saja, telah berdiri kokoh berbagai objek wisata. Dari wisata minat khusus dan air terjun, hingga wisata religi telah tersaji dengan epik untuk wisatawan.
Namun, semua itu belum menjadikan puas dan berhenti untuk tetap berkarya. Kreativitas dan seni kini dikembangkan dengan membuat objek wisata yang baru dengan nuansa yang berbeda meski masih tentang keindahan alam. Sebuah tempat yang cocok untuk berwisata bersama keluarga tercinta dari usia balita hingga dewasa pun telah dibangun. Ya, Wisata Pring Wulung, yang terletak di Dusun Tipar, Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, ini sudah tenar. Pasalnya di sini tersedia sebuah lokasi jembatan khusus yang terbuat dari Bambu Wulung (Bambu berwarna ungu) dengan bentuk hati (baca : cinta), sehingga dinamakan sebagai Jembatan Cinta (Love Bridge).
 
Pemandangan yang sempurna dari gazebo dekat pintu masuk
Disebut sebagai tempat wisat keluarga, karena di tempat wisata ini, pengunjung bisa beramai-ramai datang bersama keluarga tersayang. Atau dengan teman-teman sekolah, kerja, atau bahkan dengan pasangan yang sedang mengukir cinta (sebenernya iri kalau melihat mereka, saya kalau ke sini selalu sama temen cewek 😀). Dengan medan yang mudah dijangkau karena tidak perlu melakukan pendakian seperti tempat wisata minat khusus, di Jembatan Cinta cocok untuk berlibur bagi yang membawa anak kecil (balita).
Baca juga :
Jembatan Cinta ini sengaja dibangun di atas area persawahan untuk memanjakan wisatawan dari berbagai daerah, termasuk saya sendiri. Selain itu, di sini terdapat gazebo-gazebo untuk istirahat sejenak atau hanya ingin bersantai atau duduk-duduk sambil makan dan minum.
 
Pengunjung bergaya di atas Jembatan Cinta
Dengan pemandangan yang menyejukan mata, di tempat ini menjadi favorit pagi pengunjung. Terlebih, di Wisata Pring Wulung ini ada Photographerandal yang mampu mengambil objek/wisatawan dengan bagus. Selain itu, wisatawan juga bisa berfoto-foto sendiri atau dengan teman-teman.
 
Photo by Glaha Glehe Photograph
Oh, ya, saya hampir lupa, untuk tiket masuk juga sangat murah meriah. Hanya Rp 5.000,- (Lima ribu rupiah) saja, kita bisa bersantai dengan alam yang menakjubkan. Sangat cocok untuk merilekskan otak yang sudah jenuh dengan berbagai tuntutan hari baik pekerjaan maupun tugas lainnya.
Jadi, masih bingung mau liburan bersama keluarga ke mana? Yuk, datang saja ke Jembatan Cinta. Dijamin ingin datang kembali, seperti diriku ini.  🙂