Tag Archives: #Kebumen

Menikmati Keindahan Pantai Lampon Bak Pulau Pribadi

Pantai merupakan tempat yang sangat saya sukai. Jadi sebisa mungkin itu kalau weekend penginnya ke pantai terus. Namun harapan tetap menjadi harapan, karena pada kenyataannya, kalau weekend juga ada acara atau beberapa hal yang harus dituntaskan. Jadi ya, ke pantai sesempatnya saja.

Akhir-akhir ini saya sangat menyukai pantai-pantai di Kebumen yang sangat eksotis. Meskipun hanya beberapa pantai saja yang saya singgahi. Pantai yang gagal saya singgahi ialah Pantai Wedi Putih dan Pantai Karang Agung . Bukan apa-apa, tapi menuju ke pantai tersebut kita harus ekstra hati-hati. Menuju pantai itu kita harus jalan kaki menuruni bukit. Jalan setapak yang sepi, kanan-kiri hutan menjadikan kami takut. Padahal sudah sampai tengah perjalanan menuruni bukit, tapi kami urungkan. Selain itu, mengingat waktu kami datang juga sudah sore, jadi ya, lebih baik pulang saja.

Baca juga : Asyiknya Bermain Ombak di Pantai Suwuk

Berbicara tentang pantai di Kebumen yang harus menyusuri perbukitan memang banyak ya. Bahkan ada yang sudah terkenal yakni Pantai Menganti. Saat sekarang Pantai Menganti aksesnya jauh lebih mudah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Sekarang sudah enak.

Baca juga : Mengungkap Alasan Mengapa Pantai Ini Disebut ‘Pantai Karang Bolong’

Tapi ini bukan mau cerita tentang Pantai Menganti, melainkan pantai yang masih jauh ke atas sana. Pantai yang dijadikan sebagai penangkapan ikan oleh Nelayan. Bahkan di sini ada tempat penjualan ikan segar. Tapi saya lagi, pas saya datang ke sini, sudah siang, jadi ikan sudah habis lah.

Pas banget datang ke sini saat cuaca cerah. Ini saya lagi di depan pelabuhan atau dermaga kecil khusus untuk kapal-kapal Nelayan di Pantai Lampon

Pantai ini bernama Pantai Lampon. Pantai yang terletak di atas perbukitan. Untuk datang ke sana juga perlu perjalanan yang kudu ekstra hati-hati. Dimulai dari Kecamatan Ayah, Kebumen, yang banyak pantai-pantainya, kami terus menyusuri jalan ke timur. Jalan yang meliuk-liuk sangat membutuhkan konsentrasi dalam berkendara agar tidak terjadi hal-hal buruk. Sepanjang jalan raya-nya, kanan kiri ialah pephonan. Rumah-rumah masih jarang. Ya ada banyak juga rumah, namun tidak sepanjang jalan itu. Jadi, sesudah perbukitan itu ada rumahh-rumah warga, terus perbukitan lagi, begitu terus sepanjang jalan.

Di perjalanan yang sudah sudah mendekatinya, terlihat air laut itu ada di atas jalan. Sangat terlihat jelas ombak saling berkejaran. Sungguh menawan. Masih di jalan sudah disungguhkan dengan pemandangan yang rupawan. Tak berapa lama kemudian kami sampai juga gerbang di Pantai Lampon. Banyak kapal-kapal Nelayan yang ada di situ. Terus kami memarkirkan sepeda motornya. Tiba-tiba ada seorang bapak menghampiri kami. “Mas, mau ke wisatanya ya?” tanya bapak itu ke suami saya.
“Iya, Pak, apa benar ini Pantai Lampon?” balas suami saya.
“Iya, benar, tetapi ini dermaga saja, Mas, untuk Nelayan yang menangkap ikan. Kalau mau ke wisatanya ke atas lagi,” jelasnya.
“Oh, ya, Pak terima kasih,” jawab kami kompak.Terus kami melongo lagi gitu kan, ternyata harus ke atas lagi. Okay, kami melaju dengan kendaraan lagi. Dan.. jeng jeng.. jalannya ampun dah. Jalan masih sempit dan sebagian rusak. Sudah begitu sangat menanjak. Melalui jalan ini asli ngeri-ngeri sedap mah.

Cantik banget kan view Dermaga dari atas?

Dalam perjalanan kami memiliki kesempatan untuk melihat dermaga dari atas. Ternyata bagus banget. Banyak kapal-kapal kecil yang berjejer rapi di bawah sana.

Okay, setelah lima menit kami sampai juga di pintu gerbang Pantai Lampon yang sesungguhnya. Pintu masuknya cukup dibuat unik, karena ada taman bunga kecil. Kemudian di dekatnya ada loket untuk masuk ke pantai. Kami membayar Rp 20.000 untuk dua orang, sudah termasuk parkir dan spot foto selfie di lokasi pantai. Spot photo selfie? Saya sendiri tidak tahu apa maksudnya nih. Tapi ya sudahlah. Kami langsung menuju ke parkiran.

Okay, Guys.. kita menuruni bukit dulu menuju ke Pantai

Sudah ke parkiran saya tengok kanan kiri, mana pantainya? Kemudian ada seorang laki-laki yang merupakan bertugas di situ menghampiri kami. Dia memberitahukan kepada kami, untuk ke pantai harus menuruni bukit terlebih dahulu. Saya meringis saja. Dan saya tahu suami saya itu enggan sekali kalau harus jalan kaki menyusuri perbukitan.

Salah satu spot photo di Pantai Lampon. Abaikan gaya saya ya embuh ya. Itu mau lompat tinggi tapi takut ambles karena kekuatan berat badan saya. hahahaa

Tentang spot photo selfie saya jadi mudeng sekarang. Karena di sini di atas bukit, jadi ada spot-spot untuk foto dengan latar belakang lautan. Cukup menarik memang dan di sini juga banyak orang. Saya juga tidak banyak foto-foto di sini. Terlebih lagi saya juga kurang suka kalau ke pantai cuma foto-foto saja dari atas, terus tidak ‘nyicipin’ air lautnya. Ya kurang afdol lah kalau menurut saya.

Ngos-ngosan juga

So, kami jalan lagi menuruni bukit dengan jalan setapak terjal. Kaki cukup pegal-pegal juga. Beberapa kali kami berhenti untuk mengatur napas dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Untung saja tidak terlalu jauh.

Asyik, pantainya masih bersih dan sepi. Terus di batu karang itu ada air terjun kecil. Dan lagi-lagi saya gagal melompat, kalau ini bukan takut ambles karena berat badan. Tapi karena memang sulit untuk melompat karena berat badan. Hahahaha. Sama aja lah ya

Di Pantai Lampon ini yang turun ke bawah ternyata hanya kami, pengunjung lain hanya menikmati foto-foto di atas. Sehingga kami merasakan berada di Pulau Pribadi. Ya gimana enggak disebut mirip pulau pribadi, di sini kami cuma berdua, yang ketiganya air laut, yang keempatnya batu karang dan lainnya ada pepohonan.Di batu karang yang kecil ada aliran air tawar dari atas bukit. Jadi kayak ada semacam air terjun mini yang kemudian bergabung ke air laut. Dan kami di sini tentu saja cekakak-cekikik, berjalan dari utara ke selatan, timur ke barat, dengan bebas. Ya karena cuma berdua. Jadi merasa nyaman aja. Mau foto di mana aja boleh, mau lama-lama ngobrol juga boleh. Enggak ada yang mengantri. Main air sampai puas juga bolehlah.

Pengennya sih maju mundur cantik

Baca juga : Piknik Special Bersama Orang Special di Pantai Sundak

Pokoknya seneng deh

Setelah itu dilanjutkan dengan main ayunan. For your information ya Guys, kalau di sini ada ayunan juga. Jadi kalau sudah bosen main air bisa sambal istirahat atau makan dengan bermain ayunan. Enak banget rasanya.

Aku bilang, mereka cukup kreatif untuk menyediakan ayunan di pinggir pantai

Terus, di Pantai Lampon ini juga masih bersih. Airnya masih bening dan pantainya belum ada sampah berserakan. Paling-paling cuma ranting pohon dan daun yang pada gugur aja. Jadi kalau ke sini, kita juga mesti jaga kebersihannya. Bawa sampah kita juga ya. Baik itu botol air mineral, bungkus camilan atau lainnya. Masukan ke tas kita. Nanti di atas ada tempat sampah, kita bisa membuangnya di situ.

Berhubung waktu sudah menunjukan jam 4 sore, kami pun memutuskan untuk pulang. Kami sebenarnya ingin menikmati senja di sini, tetapi mengingat perjalanan jauh dan cukup terjal, kami juga tidak berani mengambil resiko yang terlalu tinggi. Akhirnya kami putuskan menyudahi bermain di Pantai Lampon.

Untuk kembali ke parkiran, kalian pasti tahu kan bagaimana rasanya. Pas turun aja tadi kaki pegal-pegal, apalagi ini yang menanjak. Huah… asli ini mah luar biasa. Beberapa meter jalan terus berhenti, begitu seterusnya sampai ke tempat parkir.

Jadi, buat teman-teman yang mau berkunjung ke Pantai Lampon, jangan lupa untuk menyiapkan kesehatan fisiknya ya. Latihan dulu lah jalan yang agak panjang biar enggak kaget. Terus bawa air mineral secukupnya.

Okay, terima kasih.

PANTAI LAMPON

Hutan Pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen

Jawa Tengah 54473

Mengulik Perjalanan Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Banyumas

 

Wow, dari judulnya saja terlihat cukup ekstrim. Bagaimana tidak? Dari Purbalingga ke Banjarnegara terus ke Kebumen lanjut ke Banyumas. Yang tahu rute pejalanan ini pasti menganggap saya ini cukup gila, karena perjalanan yang ngeri-ngeri sedap. Lalu, bagaimana yang belum tahu? Tenang, saya akan menceritakan perjalanan ini.
Jalan yang kita lalui menyejukkan mata
Sebenarnya sudah hampir dua bulan perjalanan ini. Diawali dari rencana liburan ke Pantai yang terletak di Gombong, Kebumen. Saya mengajak teman untuk pergi ke sana. Namun, kami berangkat sudah cukup siang, karena rempong dulu di dapur. Sehingga kita menggunakan jalur alternatif, yaitu melaui Banjarnegara. Sayangnya, pas baru nyampai Kecamatan Bukateja, Purbalingga, kita harus bermacet ria karena jalan sedang direnovasi.
Sesampainya di Mandiraja, Banjarnegara, kami menuju arah selatan. Dari sinilah petualangan kami dimulai. Jalur yang kami lalui cukup membuat senam jantung, ya maklum cewek berdua naik motor. Kanan kiri perbukitan, bahkan merupakan daerah rawan longsor. Tak sedikit kami jumpai di titik-titik longsor yang sedang diperbaiki, seperti perbaikan jembatan dan jalan. Rute ini memang luar biasa. Ada tanjakan, turunan, tikungan tajam dan curam, membuat adrenalin semakin gregetan. Rasanya ngeri tapi sedap. Negerinya, kalau tidak pandai-pandai mengatur rem dan gas sepeda motor, bisa-bisa kita masuk ke jurang, atau malah terjadi tabrakan karena jalan sempit tetapi ramai. Sedangkan sedapnya, pemandangan yang luar biasa itu menyejukkan mata. Apa lagi udara yang sejuk, membuat perjalanan tidak terasa panas.
 
Pemandangan di area waduk Sempor
Setelah perjalanan satu jam dari Purbalingga, kami istirahat dan singgah di Waduk Sempor, Kebumen. Sambil merabahkan badan yang lelah, juga bisa menikmati pemandangan yang hijau dan menyegarkan, serta bisa merasakan damainya alam ini.
 
Adem deh di Waduk Sempor
Dari Sempor kita langsung menuju Pantai Suwuk dengan mengandalkan plang di jalan raya. Prinsip kami, nyasar ya masih di Jawa Tengah dan masih satu rumpun ngapak. Hehehehe… Untuk menuju ke Pantai Suwuk, kami pun sempat bertanya-tanya ke penduduk setempat karena kami hampir nyasar ke Jogja. Setelah perjalanan yang memakan waktu sampai satu jam, kami pun tiba di Pantai Suwuk.
Puas di Pantai Suwuk, kita lanjut ke pantai lain meski bukan rencana awal. Hanya waktu beberapa menit saja, kita singgah di Pantai Karang Bolong dan menikmati keindahannya. Setelah hari cukup sore, kita harus pulang (takut pulang malam, nanti emak sama babeh ngomel 😀).
Dalam perjalanan pulang, kami ambil jalan yang berbeda. Kami melalui jalur kota sambil melirik ke kanan dan kiri di mana ada tempat makan yang nikmat dan pas dengan budget kita. Dari Gombong kami lurus ke utara menuju daerah Tambak, Kabupaten Banyumas, untuk menikmati kuliner khas. Dan kami singgah di Warung Makan Sate dan Richa-richa Bebek Lombok Ijo ‘Budhe’.
Setelah kenyang, kita lanjutkan perjalanan menuju Sumpiuh, Banyumas. Jalanan cukup ramai dari kedua arah. Terlebih merupakan jalur selatan menuju Jakarta. Berhubung masih terasa lelah, dan teman saya merasa kepanasan, kami singgah sebentar di pondok bambu pinggir jalan raya Sumpiuh. Tujuannya memang untuk istirahat, selain itu untuk menikmati dawet ketan hitam.
 
Istirahat sejenak melepas lelah di Sumpiuh, Banyumas
Sambil menunggu teman saya menghabiskan es dawetnya, saya leyeh-leyeh (istirahat) sejenak sambil menikmati belalaian angin yang mesra (mesranya sama angin :O) dan menyejukkan.
Betah deh duduk-duk di sini, sambil lihat pemandangan cakep
Selesai menghabislan es dawet itu, kita lanjutkan perjalanan menuju Sokaraja. Namun sayang, jalan sudah padat merayap bahkan jalur sebaliknya macet. Akhirnya di pertigaan Kebasen, Banyumas, kami ambil kanan untuk mencari jalur alternatif. Dan, jalur ini lebih gila dari jalur pertama berangkat.
Lebih ekstrim, tanjakan dan turunannya lebih tinggi dan curam. Selain itu, karena ini jalan desa, luas jalan pun lebih sempit. Ditambah lagi, aspal jalan yang belum halus, bahkan ada beberapa ruas jalan yang berlubang. Ini bukan senam jantung lagi tapi tambah senam perut karena merasa terkocok-kocok perutnya.
Setelah melewati jalur itu, kami menemukan pertigaan jalan raya. Agar tidak tersesat kami bertanya pada pedagang ayam goreng. Dia menjelaskan, bahwa yang ke kiri arah ke Sokaraja, dan yang ke kanan arah Klampok, Banjarnegara. Fix, dia menyarankan untuk ambil arah ke kanan, yang lebih dekat ke Purbalingga.
Oke, dari Banyumas kita ke Banjarnegara (lagi). Kali ini jalan yang dilalui pun asing. Baru pertama kali saya lewat jalur ini. Ini memang benar-benar jalur alternatif, karena jalan desa juga, bahkan kita melewati perkebunan yang cukup luas. Rasa yang sudah lelah, membuat kita capek dan belum sampai-sampai juga ke Klampok.
Ketika melihat plang ‘Klampok’, kita langsung semangat lagi dan terus menekan kecepatan untuk pulang ke Purbalingga. Berhubung di Bukateja sedang diperbaiki, kita pun lewat jalur alternatif agar tidak kejebak macet. Namun, di Kemangkon, justru kemacetan sangat parah. Kendaraan masuk ke jalan ini semua, karena mereka pun menyadari jalan di Bukateja sedang diperbaiki.
Damn… macet parah!
Kalau di film, pasti saya akan terbang lihat jalan gini, hahaha
Beruntung kemacetan itu bisa terurai dan hanya lima belas menit terjebak di dalamnya. Lolos dari kemacetan, kita tancap gas lagi menuju kota Purbalingga, dan kemudian pulang.

 

Alhamdulillah pas maghrib nyampai di rumah. Perjalanan yang seru, semoga bisa ke tempat lain seperti ini lagi.

Mengungkap Alasan Mengapa Pantai Ini Disebut ‘Pantai Karang Bolong’

Setelah puas bercengkerama dengan pasir di Pantai Suwuk, kita melanjutkan perjalanan menuju pantai lainnya. Ya, tujuan awal kita ke Menganti yang memiliki eksotisme seperti pantai indah di negara New Zealand. Namun, apa hendak dikata, ketika bertanya ke penduduk setempat, jalan ke Menganti itu sangat menanjak dan berbahaya, apalagi waktu sudah cukup sore, hampir setengah 3 dan ditambah gerimis. Jadi gagal ke Menganti. Okay, tidak masalah. Untuk mengobati rasa kecewa, kita pergi ke pantai lain.
Pantai ini hanya berjarak 9 km dari Pantai Suwuk, dan memiliki nama unik, Pantai Karang Bolong. Terletak di bagian barat Pantai Suwuk, bahkan jika menggunakan perahu penyebrangan, jarak yang ditempuh lebih dekat dan hanya memakan waktu puluhan menit saja (10 -15 menit). Tarif untuk naik perahu juga tergolong murah, hanya Rp 10.000,- per orang sekali jalan.
Karang Bolong yang menyerupai gua
Sampainya di Pantai Karang Bolong, hal utama yang menjadi penasaran tentu saja batu karangnya. “Kenapa sih, disebut pantai karang bolong?”. Sebenarnya sangat sederhana untuk mencerna dan memahami maknanya. Sejatinya, pantai memang identik dengan karang yang megah. Nah, di pantai ini memiliki karang yang besar juga, tetapi berlubang (bahasa Jawa : Bolong) dari depan hingga tembus ke belakang seperti gua. Sehingga penduduk setempat menyebutnya ‘Pantai Karang Bolong’. Nama itu pun turun temurun dan menjadi salah satu destinasi wisata yang terkenal di Kebumen.
 
Muka udah capek, lokasi : Karang Bolong
Pemandangan di Karang Bolong lebih terasa nyiurnya karena terdapat pohon kelapa dan pepohonan lain yang berdiri di pinggir pantai. Angin sepoi-sepoi membuat saya menikmati udara sejuk nan segar. Rasanya betah dan rileks. Namun, waktu jua yang harus memaksa kami untuk beranjak pulang. Maklum sudah hampir setengah empat sore, perut juga sudah berdisko ria ingin diberi asupan.
 
Nah, di sini, nih, asyik banget buat foto-foto
Dan hal utama yang masih harus ditingkatkan lagi yaitu sampah. Alangkah indahnya jika sampah tidak berserakan di pinggir pantai. Selain menambah cantiknya destinasi, tanpa sampah juga membuat lebih nyaman untuk pengunjung. So, mari kita bawa kembali barang-barang yang kita bawa, di manapun itu, jangan buang sampah sembarangan, karena #NyampahSembaranganGakKeren.

 

Sebagai tambahan info, saat ini Pantai di pesisir selatan Jawa sedang mengalami pasang, sehingga warga dihimbau agar sementara waktu ini tidak libur ke pantai selatan daerah Jawa, salah satunya Pantai Karang Bolong, Kebumen.

Asyiknya Bermain Ombak di Pantai Suwuk

Laut, merupakan warisan yang tersebar di seluruh Nusantara. Karena memang Indonesia negara maritim. Dan tak lengkap pula rasanya jika saya tidak berwisata ke salah pantai, apalagi di Jawa Tengah, tempat tinggal sendiri. Setelah sebelumnya saya menulis tentang meluangkan waktu sejenak di pinggiran danau buatan. Kali ini saya lanjutkan tentang salah satu pantai di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.
Dengan berbekal nekad (karena belum pernah pergi hanya berdua) dengan mengendarai kendaraan roda dua, kami melanjutkan perjalanan dari Waduk Sempor ke Gombong. Masalah jalan, pasti ketemu kalaupun terpaksanya nyasar, yang jelas masih di wilayah Jawa Tengah, hehehhehe.. 😀

Baca juga : Di Pinggiran Danau Buatan Ini, Kita Bisa Hilangkan Penat Sejenak
Perjalanan menuju pantai memang jauh dan melelahkan. Kita juga sempat beberapa kali tanya kepada penduduk setempat untuk menanyakan rute yang benar menuju Pantai Suwuk, Gombong, Kebumen. Kita juga nyaris lurus ke Jogja karena bingung tidak tahu arah. Hahahahahaha..
Pantai Suwuk, Gombong, Kebumen

 

Setelah memakan waktu satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Pantai Suwuk. Karena lelah, so pasti kita istirahat dan makan dulu, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 12.35. Sebagai anak rumahan, tentu saja saya membawa bekal dalam travelling ini (sebenarnya buat hemat). Sedangkan teman saya memesan lotek (sejenis rujak sayur/gado-gado/pecel sayur) dan memakan di warung tersebut. Saat melahap hidangan masing-masing (saya makan bekal yang saya bawa), mata kita tertuju pada makanan aneh yang tersaji di warung itu. Saya bertanya kepada pemilik warung itu, dan memberitahu bahwa makanan itu rempeyek ‘Yutuk’. Sebuah binatang kecil yang hampir mirip dengan udang. Cara memasaknya pun cukup sederhana, Bisa langusng digoreng ataupun bisa dibuat rempeyek. Makanan ini merupakan makanan khas di daerah Pantai Suwuk, Gombong.

Setelah kenyang, tentu saja kita menuju bibir pantai untuk bermain dengan ombak. Pantai Suwuk ini salah satu destinasi wisata di Jawa Tengah, yang terletak di Kabupaten Kebumen. Karena pas datang di hari libur panjang, tentunya banyak pengunjung yang datang. Sampai-sampai bingung mau foto-foto di mana. Beruntung saja, kita bisa memanfaatkan moment untuk mengambil beberapa gambar. Selanjutnya, tentu bermain dengan ombak.

Beruntung dapat spot sepi untuk foto-foto 😀

Bermain di Pantai Suwuk ini menyenangkan juga. Ada banyak tenda-tenda juga di pinggiran untuk duduk santai atau hanya sekedar menikmati air kelapa muda yang segar.

Dan saya pun berharap, alangkah baiknya pengunjung tidak membuang sampah sembarangan di pantai. Kalau tidak ada sampah yang berserakan pastinya Pantai Suwuk akan bersih dan keren. Keindahan alam ini tidak boleh dirusak, apalagi membuang sampah ngasal saja. Karena #NyampahSembaranganItuGakKeren.

Di Pinggiran Danau Buatan Ini, Kita Bisa Hilangkan Penat Sejenak

sejenak meluangkan waktu di pinggir waduk 😀
Perjalanan ini saya lakukan bersama teman beberapa hari yang lalu. Tujuan utamanya memang ke pantai, tetapi berhubung perjalanan yang cukup jauh yang hampir memakan waktu 3 jam, di tengah perjalanan kita singgah sejenak di suatu tempat yang sejuk dan memberikan panorama yang indah. Untuk menuju lokasi tempat ini memang cukup jauh dari tempat saya.
 
Pemandangan indah dilihat dari atas :

Ceritanya sambil menyelam minum air, istirahat sambil menyejukan badan setelah 2 jam di perjalanan menggunakan roda dua. Sampai di tempat parkir kita langsung menuju lokasi yang tidak jauh. Kedua mata ini langsung tertuju pada pemandangan yang indah nan apik itu, sampai-sampai lupa dan ditagih tiket masuk (lupa belum beli tiket, langsung nyelonong aja :D). Harga tiket untuk masuk lokasi ini cukup murah, hanya sebesar Rp 5.000 (lima ribu rupiah).
Meski di Waduk Sempor, Kebumen ini tidak bisa bermain air, namun sejenak kita bisa melepaskan penat dan capek karena perjalanan yang jauh. Dari atas, kita bisa melihat danau buatan yang begitu luas dengan dikelilingi oleh bukit-bukit kecil berwarna hijau. Dan tentunya hal yang paling digemari oleh pengunjung adalah mengambil gambar dengan background bukti kecil di seberang waduk, tidak terkecuali saya. Selain udara yang sejuk, di sini memang cocok untuk bersantai bersama teman dan atau pun keluarga bahkan sendirian.
 
Batu peresmian waduk sempor
Tentang Waduk Sempor ini diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Prof. Dr. Ir. Sutami pada Maret 1978. Waduk ini sangat bermanfaat bagi warga sekitarnya. Karena bisa menjaga ekosistem lingkungan di daerah Kebumen khususnya dan daerah lainnya pada umumnya. Dengan adanya waduk ini, perairan untuk warga tercukupi apalagi mereka-mereka yang bertani, yang sangat memerlukan irigasi untuk menggarap sawahnya.
Untuk menempuh perjalanan ke sini memang cukup melelahkan karena melalui jalan raya yang berliku. Namun, mata ini tetap dimanjakan dengan pesona alam Sang Maha Kuasa yang begitu indah. Dan rasanya memang tepat sekali kalau singgah di Waduk Sempor sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.
Kemudian di Monumen kedua (di tempat atas), kita memperoleh informasi history tentang peristiwa yang terjadi beberapa puluh tahun silam. Dalam monumen disebutkan sejumlah pekerja yang gugur pada kurun pengerjaan proyek antara tahun 1976-1978. Meskipun pembangunan sudah dikerjakan sejak tahun 1961. Selain nama pekerja proyek yang dinyatakan gugur oleh pemerintah, terdapat sebuah daftar 127 orang yang tewas pada peristiwa bobolnya waduk pada tahun 1967 akibat hujan yang sangat deras hingga bendungan tidak mampu menampung debit air.