Tag Archives: #Purwokerto

The Village Purwokerto, Tempat Wisata Unik dan Instagramable

Purwokerto, salah satu kota yang terkenal di Jawa Tengah, menyimpan banyak kenangan dan sekaligus kebahagiaan. Bahkan banyak orang yang latah menamai daerah di sekitar Purwokerto merupakan daerah Purwokerto. Salah satunya ialah The Village Purwokerto. Memang lokasi wisata tersebut tidaklah jauh dari Kota Purwokerto, dan alamat aslinya terletak di Jalan Raya Baturraden KM 07, Rempoah, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Namun, untuk memudahkan para pengunjung termasuk saya juga yang latah, memang lebih enak mengatakan itu sebagai The Village Puwokerto.

Tampak luar dari The Village Purwokerto

The Village ini merupakan salah satu wisata baru yang langsung hits dan menarik perhatian pengunjung. Dengan konsep bangunan ala-ala Eropa serta di dalamnya terdapat wisata edukasi kesenian, hal itu menjadikannya sangat menakjubkan. Saya pun pas datang ke sini langsung takjub dan terheran-heran. Walau pada saat itu saya datang di cuaca yang tidak begitu cerah, iya, setelah hujan rintik-rintik mengguyur bumi Purwokerto dan sekitarnya.

Baca juga : Jalan-jalan ke Purwokerto? Jangan Lewatkan untuk Nyicipin Kue Serabi yang Lezat ini

Sebenarnya saya datang ke sini juga sudah lama nih, tapi baru sempat saya tuliskan di blog ini pada hari ini. Hihihi, maaf, sok sibuk. Waktu itu saya datang dalam acara GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Banyumasan yang terdiri dari Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap. Saya sendiri mewakili teman-teman dari Purbalingga.

Okay, dari Kiri ke Kanan : Eka, Mba Idah, Me (Ery), Rois, Rizky, dan Mba Olipe

 

Jembatannya emang cakep banget sih..

Acara jalan-jalan ini sangat menarik karena The Village memiliki luas sekitar 2,8 hektar. Yang mana kita bisa berjalan-jalan untuk menikmati keindahan di setiap sudutnya. Ada danau buatan yang ada kapalnya juga. Dan kita bisa naik juga di situ. Terus ada beberapa binatang yang dipelihara, tempat-tempat yang unik atau game unik. Serta Food Court dengan ruangan yang sangat menjanjikan.

Baca juga : Menikmati Lezatnya Nasi Padang di Rumah Makan Sako Bundo

Suka sama area permainan ini

 

Area di sini ada kelincinya, tapi ini lagi gak mau keluar nih kelincinya. Mungkin malu sama saya. hahaha

 

Di dalam Food Court yang nyaman.

Baca juga : Ayam Geprek Bae, Hidangan Murah yang Menjadi Buruan

Dengan segala bentuk keindahan tersebut, tak heran kalau setiap harinya pengunjung terus berjubel untuk menikmatinya. Selain itu, ada juga hamparan taman yang cukup luas sehingga menambah daya tarik sendiri bagi wisatawan. Dan hal yang saya sukai dari tempat wisata ini ada banyak spot-spot foto yang instagramable. Baik dari jembatan, taman bunga, rumah kaca dan lainnya.

Jembatan ini adalah favorit bagi pengunjung, termasuk saya.

 

Taman bunga yang cantik.

Tempat wisata ini juga sangat cocok untuk liburan bersama pasangan, sama pacar, teman, atau bahkan sama keluarga. Tempatnya nyaman dan enak, menjadikan orang yang berkunjung ke sini juga semakin betah. Ditambah lagi, harga tiket hanya dibandrol Rp 18.000 per orang.

Bangunannya cakep-cakep.

Untuk rute menuju The Village, saya pahamnya mulai dari Purwokerto-nya nih, dari arah Purwokerto menuju arah Pabuwaran, kemudian lurus terus ke utara melewati Perumahan Raflesia. Nah dari situ masih lurus ke utara sedikit, kemudian di kanan jalan ada tempat parkir yang luas dengan view gedung-gedung tinggi nan unik. Di situlah lokasi The Village Purwokerto.

Jadi, yuk kita main ke The Village.

 

Photo from : Eka Can (IG @masekacan) dan Rizki Ramadan (IG @rizkichuk)

Menikmati Lezatnya Nasi Padang di Rumah Makan Sako Bundo

Nasi Padang, siapa sih yang tidak mengenal masakan khas dari Sumatera Barat itu? Selain rasanya yang super lezat, porsinya juga jumbo, jadi sering diburu untuk mengenyangkan perut. Seperti halnya saya saat siang yang cukup panas di tengah kota Purwokerto, Jawa Tengah. Lelah, lapar dan dahaga membaur menyelimuti badan ini. Sampai-sampai aroma sedap dari sebuah warung makan menggelitik di hidungku. Langsung saja saya bilang ke Pak Suami untuk segera menghentikan laju sepeda motornya.

“Mas, stop, stop,” pintaku.
“Ada apa?” tanya Suami.
“Aku lapar, ayo makan,” dan aku pun merengek bak anak kecil
“Makan apa? Kenapa minta berhenti di sini? Memang mau makan apa?” tanyanya lagi.
“Aku mencium aroma masakan yang sangat nikmat, pasti di sekitar sini ada nasi padang,” jawabku sambil senyum-senyum dan mengedipkan alis.

 

Baca juga : Lezatnya Mie Ayam Pangsit Wetan Taman Kota

Nasi Padang Telur Dadar Pilihan Suami

Sambil mencari sumber nasi padang itu, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan sepeda motor. Tak berapa lama kemudian, memang ada rumah makan khas padang itu. Kami kebablas beberapa meter, sehingga kami putar balik lagi. Setelah Pak Suami memarkirkan sepeda motor, kami langsung masuk ke warung tersebut. Tak perlu lama-lama, kami langsung memesan menunya. Saya memesan nasi padang dengan lauk ayam semur, sedangkan Pak Suami memesan nasi padang dengan lauk telur dadar yang selalu jadi favoritnya. Untuk minumnya kami berdua cukup dengan air mineral yang sudah tersaji di meja.

 

Baca juga : Mau Menikmati Hidangan Enak Sambil Nyantai? Kedai Kebun Jawabannya

Nasi Padang Ayam Semur/Gulai Pilihan Saya

Kemudian kami memilih tempat duduk yang kosong untuk menikmatinya. Tak berapa lama kemudian, menu yang dipesan pun datang juga. Saatnya makan dah.. Saya mencicipi perlahan, mencoba menikmati setiap rempah-rempah yang ada di dalam hidangan ini. Dan ya, memang benar, aroma yang saya hirup ketika di jalan, sesuai dengan apa yang sedang ada di hadapan kami saat ini. Masakan padang ini sangat luar biasa. Bumbunya sangat meresap dan kerasa akan cita rasa khas Minang. Saya dan Suami pun makin lahap untuk menikmatinya. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan nasi padang ini.

Daftar Menu Nasi Padang Sako Bundo

Sambil menunggu nasi turun semua ke perut, kami bersantai dulu. Mengobrol ngalor ngidul berdua dan menghabiskan sisa-sisa air minum yang ada di gelas. Setelah dirasa cukup untuk istirahat, kami beranjak ke kasir untuk membayarnya. Harganya juga cukup murah, karena semuanya hanya dibandrol Rp 22.000. “Murah juga nih,” batinku.

Warung nasi padang ini juga sangat strategis karena dekat dengan Pasar Wage, Purwokerto. Jadi, yang sudah capek belanja segala macam kebutuhan di Pasar Wage, bisa mampir ke rumah makan Sako Bundo. Dijamin harga murah dan rasa luar biasa.

 

Rumah Makan

SAKO BUNDO

Jl. DI. Panjaitan No. 5 Purwokerto

Tlp. 0281 – 636551, 0812 2758 9700

Ayam Geprek Bae, Hidangan Murah yang Menjadi Buruan

Hallo, saya kembali mencoba menulis di sini lagi. Kali ini saya akan bercerita tentang kuliner di Purwokerto, Jawa Tengah. Kala itu saya lagi ada kerjaan mengecek sebuah harga perkakas bangunan di salah satu toko bangunan yang ada di Purwokerto. Saya pergi sama suami dan adik saya yang paling kecil. Ya itung-itung sambil jalan-jalan juga gitu, karena hari Minggu. Dari pada jauh-jauh ke Purwokerto cuma ngurusin kerjaan, kan bikin senep juga ya. Setelah keluar dari toko tersebut saya merasa lapar, maklum sudah siang dan perut belum diisi dari pagi (maksudnya belum diisi nasi, camilan apa saja si sudah masuk). Jadi saya minta ke Pak Suami untuk mampir ke salah satu tempat makan yang harganya murah. Pak Suami tentu hapal di mana saja lokasinya karena dia memang asli orang Purwokerto, bahkan kerjanya juga di Purwokerto.

“Emang mau makan apa?” tanyanya.
“Yang penting murah meriah, kenyang dan enak,” jawabku.
“Lah,” balas Pak Suami yang rada bingung karena istrinya minta yang rada konyol. Kan ya gimana gitu, udah minta murah meriah, enak, dan bikin kenyang.
“Pastinya makan apa ini?” desak Pak Suami.
“Apa aja deh yang penting ada nasinya, aku lapar,” cewek tuh begini, andalannya ya apa saja deh, terserah, yang penting ini, yang penting itu.
“Ya udah, ayam geprek bae ya,” jawabnya lagi.
“Oke,”

Di tempat parkir udah banyak kendaraan yang berjejer

Dan akhirnya kami pun melipir ke Ayam Geprek Bae yang terletak di Jalan Pierre Tandean No. 39, Purwokerto. Dari tempat parkirnya, jelas terlihat kalau warung makan ini sangat ramai. Karena banyak sekali sepeda motor yang berjejer rapi di situ. Dan kami pun langsung menuju tempat pengambilan nasi dan sayurnya. Oh ya, sebagai informasi nih buat teman-teman, kalau di Ayam Geprek Bae ini kita ambil nasi sesuai porsi kita, bebas ambil sendiri pokoknya dah. Terus nasinya ada dua pilihan yaitu nasi biasa sama nasi uduk. Nah lho, pilih yang mana? Mana saja boleh. Untuk sayurnya juga gitu, kita bebas ambil sayur apa saja. Ada lalapan, ada tumis tempe, ada tahu, berbagai macam gorengan dan lainnya. Pokoknya komplit banget dah.

Baca juga : Jalan-jalan ke Purwokerto? Jangan Lewatkan untuk Nyicipin Kue Serabi yang Lezat ini

Ambil nasinya bebas, sekenyangnya ya…

Yang paling unik dari cara penyajiannya adalah kami para pelanggan bebas mengambil menu apa saja secara antri namun tetap tertib. Ini yang membuat saya salut dan patut ditiru, biar enggak pada rebutan gitu.

Sayurnya juga tinggal pilih ya..

Terus setelah ambil nasi dan sayurnya, kita sampai di tempat kasir, di sini baru kita mau pilih pakai ayam apa enggak, dan pakai cabai berapa. Di sini ada ayam geprek original, ada ayam geprek mozzarella juga. Ya sesuai selera dan kantong juga. Berhubung tanggal tua juga Pak Suami belum gajian, kami pesen ayam geprek original saja. Dan saya pakai cabainya cukup satu biji saja lah, kagak perlu banyak-banyak. Pak Suami pakai cabai tiga, adik saya pakai cabai dua.

Baca juga : Mau Menikmati Hidangan Enak Sambil Nyantai? Kedai Kebun Jawabannya

Mari kita makan

Setelah pesanan menu sudah oke, tinggal kita pesen minumnya, menunggu di situ sekalian. Kami pun pesen es teh manis. Dan tiga porsi ini hanya seharga Rp 45.000,00. Kan murah banget? Udah ada nasi, sayur dan minu es teh manis pula. Ya cocok lah untuk kantong kita-kita yang sudah memasuki tanggal tua.

Ini daftar menunya

Sedangkan soal rasa, dari nasi saya suka banget. Karena apa? Karena nasinya pulen abis. Yes, betul, nasinya itu enak banget. Kemudian untuk lalapannya juga enak, sayurannya masih fresh gitu, enggak over cook. Namun saya sedikit kecewa dengan ayamnya. Jadi ayam geprek ini hanya semacam ayam ala-ala Kentucky terus ditumbuk dengan cabai. Rasanya ayamnya menurut saya biasa saja enggak terlalu istimewa, masih enak lah ayam goreng buatan sendiri.

Baca juga : Menikmati Sensasi Pedas dan Gurih Ayam Geprek Bu Rum

Untuk lokasinya cukup luas dan nyaman, pelayanannya juga ramah, dan tempat parkir juga luas. Ya, bisa lah kita bawa rombongan makan di sini. Sehingga di sini selalu ramai. Dari mana saja, banyak orang yang datang untuk menikmatinya. Karena selain murah meriah, kita juga bisa ambil makanan sesuai porsi dan selera kita. Itu mengapa Ayam Geprek Bae selalu jadi buruan orang-orang untuk mengisi perut.

Ya, jadi itulah kisah saya bersama ayam geprek yang harganya super murah. Semoga ayamnya makin enak.

Jalan-jalan ke Purwokerto? Jangan Lewatkan untuk Nyicipin Kue Serabi yang Lezat ini

Purwokerto, merupakan ibukota dari Kabupaten Banyumas. Kota yang dibanggkan dan mendapatkan julukan kota satria, saat ini perkembangannya kian pesat dan maju. Banyak bangunan gedung-gedung menjulang tinggi berdiri kokoh. Ya, tak heran juga, karena sebagai kota yang cukup maju, baik dari segi pendidikan, ekonomi dan persaingan bisnis, kian menjamur di kota satria ini. Banyak pelancong dari mancanegara atau mereka yang berbisnis singgah di kota ini. Menikmati semilirnya kota tapi sejuk dan mudah untuk terkoneksi ke mana-mana karena terdapat stasiun kereta api.
 
Ah, tapi saya tidak akan membahas bagaimana perkembangan ekonomi dan bisnis di sini. Karena saya bukan pengamat ekonomi yang andal dan mahir. Saya hanyalah seorang hoby berbelanja dan jalan-jalan meski hanya keliling kota, hahahaa.
 
Lanjut ke topik, Purwokerto ini tetangga saya, iya, tetangga kabupaten, karena saya tinggal di Purbalingga. Kebetulan suami saya orang Purwokerto, jadi sekarang saya bisa sering jalan-jalan ke kota ini.
 
 
Pas itu nginep di rumahnya, Minggu pagi kami jalan bareng (asli jalan kaki) mencari kudapan khas namun yang enak dan terpercaya, serta bukan makanan kekinian yang lagi ngetrend. Pak Suami akhirnya menyarankan untuk menyicipi kue serabi. Kan nikmat banget tuh, pagi-pagi abis subuh langsung melahap serabi anget, enak daah. Demi kue serabi kita jalan-jalan.
 
 
Sampai di tempat ternyata ngantriiii.. Kue Serabi yang ada di Jalan Bank, Purwokerto ini memang selalu diburu oleh pelanggan. Selain itu, harus pagi-pagi betul kalau mau ke sini, biar enggak kehabisan.
 
Ya, wajar saja si ya di sini ngantri, rasa serabinya juga banyak varian rasa, dari serabi putih, serabi gula merah, serabi telur, serabi pisang, serabi keju dan serabi meses. Kita berdua tentu ikut ngantri sambil jeprat jepret dulu (but no wefie or selfie, sebab belum mandi) hihihihi.
Rasa tradisionalnya ngena banget
 
Tungku yang dibuat masih menggunakan tungku zaman old (baca : zaman dulu), pembakarannya juga menggunakan arang, bukan dengan kompor yang kecil. Dengan penuh kesabaran dan teliti, mereka menuangkan adonan ke dalam wajan kecil juga. Satu per satu dituang, satu per satu juga mereka buka, mengecek apakah sudah matang atau belum. Untuk varian rasa tergantung selera penikmatnya. Saat sebentar lagi matang, rasa yang diinginkan pembeli dimasukan, baik itu cokelat, pisang, keju, atau meses. Kalau yang rasa original gula merah, tunggu matang sempurna langsung diangkat.
Mari kita makan serabi, mumpung masih panas.
For your information, kue serabi ini harganya Rp 3.000/buah. Lezat dan murah deh ^_^
 
Setelah menunggu bebarap saat, akhirnya pesanan kita datang. Icip-icip serabi di Jalan Bank ini memang enak. Rasa legit dan manisnya pas. Kebetulan kita pesan yang original dan toping keju, ternyata enak juga. Cocok deh sambil jalan-jalan atau joging di pagi hari, terus mampir buat ngisi perut dengan serabi yang masih anget (malah panas).
 

 

Enaaak….
 
Serabi Aneka Rasa
Bu TINI
Jalan Bank (Depan Apotek Fajar Sehat)
Purwokerto
HP : 0852 2759 0344

WaPiSa, Tempat Pinggir Sawah yang Asyik Buat Hangout

Sore itu, dari pusat kota Purwokerto, menyusuri jalan berdua naik sepeda motor. Romantisme itu pun hadir pada kita berdua yang baru beberapa hari melangsungkan ijab qabul. Perjalanan kita menuju pinggiran Purwokerto, di sekitar daerah Ledug.
Tujuan kita sore itu mencari tempat makan yang beda dari biasanya dan unik. Dan tentunya bisa nyantai serta ada aroma romantis-romantisnya gitu. Kata saudara suami si lokasinya di komplek STIKes Harapan Bangsa Purwokerto. Berhubung kita juga belum paham jalan di sini, awalnya kita ke bablas, sampai setelah STIKes, dan belok kiri menuju jalan yang penuh persawahan. Hmm, suasananya enak si sejuk-sejuk gimana gitu, terlebih matahari mulai tenggelam. Tapi, kita kan mau isi perut biar gak kelaperan. Akhirnya kita belok lagi, dan menuju komplek STIKes lagi.
Di sepanjang jalan kita memperhatikan tulisan yang backgroundwarna orange, dan akhirnya nemu tulisan ‘Pisa’. Ternyata warung itu masuk ke dalam gang, ya kurang lebih 200 meter dari jalan besar. Awalnya agak ragu pas masuk, karena warungnya gelap, menggunakan lampu yang remang-remang. Sudah begitu, di depan, tertuliskan ‘Cafe’, kan takut juga gak ada menu makanan yang lain cuma kopi yang diracik dengan berbagai rasa dan varian.
Kesan pertama saat masuk warung ini ya cukup gelap, tapi ruangannya luas. Dan yang membuat saya senang, di pinggir jendela langsung bisa melihat area persawahan. Udara dari luar jendela itu sepoi-sepoi gimana gitu. Lebih jauh memandang, lampu jalan seberang sawah sudah menyala, kian memberikan kesan romantis bagi kita berdua, hihihihi.
Ada kesempatan ya buat foto lah 😀
Tak berapa pelayan pun datang, memberikan daftar menu kepada kami. Menu di sini kebanyakan menu ala-ala Western atau Modern Asia. Pilah pilih akhirnya aku pesan aku pesan Pizza Home Made Lasagna dan Java Herb Coffee, sedangkan Pak Suami aku pilihin Thai Beef Salad dan Ice Lemon Tea.
Sambil menunggu pesanan datang, tentunya kita berdua foto-foto dulu dan menyaksikan tempat ini. Tempatnya memang adem, luas dan cukup nyentrik. Udara segar dari jendela membuat rasa nyaman tersendiri bagi pengunjung.
Dari tampilan emang sudah menggoda
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan datang. Dan aku terkesima dengan Pizza Home Made Lasagna, bukan apa-apa, tapi karena porsinya yang buatku mini. Tapi, ya memang harganya hanya Rp 20.000/porsi, jadi aku maklumi. Untuk rasa, enak, ini beneran, bahkan suamiku pun pas ikut nyicipin dia, juga ikut komentar, “Ini enak.”
Pizza Home Made Lasagna
Irisan keju di atasnya membuat rasa semakin top
Sedangkan untuk Thai Beef Salad, ini merupakan daging sapi yang digril, tumis, yang pada saat pleting ditaruh di atas sayuran segar seperti kobis, paprika, wortel, dan tomat. Rasanya tentu fresh, karena memang sayurannya tidak dimasak terlebih dahulu. Dan menu ini dibandrol Rp 21.000/porsi.
Thai Beef Salad
Ice lemon tea standard, harga juga tidak terlalu tinggi, karena dipatok Rp 11.000/gelas; rasa sama dengan lemon tea lainnya. Tetapi kalau Java Herb Coffee itu lain cerita. Ini kopi hitam yang dicampur cream, dan di dalamnya kayak ada biji kopi apa gitu, rasanya pahit-pahit manis. Berhubung aku gak terlalu suka pahitnya kopi, alhasil, minuman ini aku hibahkan ke orang yang duduk di sampingku. Hehehe…
Java Herb Coffee, juga dibandrol Rp 11.000/gelas
Dan hari pun kian gelap, makanan juga sudah bersih. Saatnya kita melanjutkan perjalanan menikmati perjalanan malam di Purwokerto.
Waroeng Kopi Pinggir Sawah (WaPiSa)
Jl. Raden Patah
Gang Sunan Kalijaga I No. 8

 

Purwokerto

Nikmati Kuliner Anti Mainstream di Waroenk Ora Umum, dan Temukan Sensasi yang Berbeda

Keunikan sebuah kuliner baik tempat, nama makanan, atau wujudnya, saat ini menjadi daya tarik tersendiri untuk memikat konsumen. Tak jarang, saat ini banyak menu dan nama café yang tak umun. Seperti tempat/warug makan yang kala itu saya dan teman singgahi.
Waktu itu, saya dan Diah hendak nonton film di bioskop. Berhubung sering kehabisan tiket karena saking ramainya, kita berdua berangkat gasik (lebih awal). Setelah ngantri cukup lama (hampir 1 jam, tepatnya 45 menit) akhirnya Diah dapat tiket itu (yang ngantri temen dong, gue mah duduk manis aja sambil ngemil #ciri-ciri temen gak baik ya?).
Nah, tiket didapat, kita tinggal bingung mau ngapain. Masalahnya masih jam 11.30, sedangkan tiket yang kita pesen untuk nonton jam 13.45. Masih banyak waktu buat nunggu. Dan dari pada bengong jelas, kita putuskan buat isi perut dulu. Biar pas nonton kita tenang, gak ada cacing yang demo.
Setelah memakan waktu perjalanan 15 menit, kita sampai di Waroenk Ora Umum. Tempat parkir luas, meja dan kursi yang disediakan juga banyak. Bahkan tempat ini juga luas. Bisa banget ngadain birtday party ngundang 50 orang. Habis mata jelalatan memandang tempat ini, kita ke kasir buat pesen makanan dan langsung bayar. Lalu, cari tempat duduk yang nyaman sambil menunggu pesanan datang.
Nasi Mozzarela Orginal, dari tampilannya aja, udah menggoda banget.
Tak berapa lama kemudian, Nasi Mozzarela Original, Zuzu Vanilla Latte, Nasi Seblak Rendang dan Es Lemon Tea datang juga. Hmm, icip-icip dimulai. Nasi seblak rendang ini terdiri dari nasi putih, seblak dimasak rendang dan telur ceplok. Untuk rasa, berhubung saya gak doyan pedas, jadi sangat cetar membahana di lidah. Namun, bagi orang yang doyan pedas, ini makanan jadi favorit.
Seblak rendangnya, nendang abis di lidah
Sedangkan Nasi mozzarela original, rasanya lebih unik dan mengandung unsur Eropa. Bentuknya memang hampir mirip dengan nasi goreng. Yang membedakan ada campuran mozzarela di bagian atas nasi. Meski begitu, tak mengurangi rasa gurih dan lezat.
Kedua makanan itu pas karena porsinya juga cukup untuk makan siang dan membungkam cacing yang sudah discoan.
Oh ya, untuk harga juga cukup terjangkau dan bersahabat dengan kita-kita. Nasi Mozzarela Original cuma seharga Rp 20.000/porsi, Nasi Seblak Rendang Rp 12.500/porsi, Zuzu Vanilla Latte Rp 9.000/porsi, dan Es Lemon Tea hanya Rp 5.000/porsi.
Foto berdua juga gak boleh ketinggalan 😀
Dan akhirnya makanan habis, waktu masih menunjukan 12.25. Mau langsung balik ke biskop masih tetep antri lama. Kita cari tempat ibadah dulu, dan ternyata di warung ini ada tempat untuk shalat. Sehabis shalat kita rencananya langsung ke bioskop. Eh, ternyata di bagian belakang warung ini ada spot untuk foto-foto. Ada lukisan di tembok. Ya semacam doodle atau mural atau apalah namanya. 😀
Dengan konsep dan sajian menu yang tersedia di sini. Warung di sini disebut ‘Warung Anti Mainstream’. Cocok untuk nongkrong sama siapa aja. Bisa cuma berdua, bersama genk, atau bahkan sendirian.
Ini ‘tukang ojek’ saya, yang ketagihan foto-foto
Well, setelah keasyikan foto-foto lihat jam udah nyaris jam 1. Kita buru-buru deh ke bioskop, dan dalam hati berdoa, semoga gak macet.
Waroenk Ora Umum
Jl. dr. Soeparno No. 98 Arcawinangun (Sebelah D’Garden Resto)
atau Utara Perum Bumi Arca Indah
Purwokerto, Jawa Tengah 53113

Super Sambal Hadir Untuk Tampung Orang yang Doyan Pedas

Berbicara tentang kuliner, di negeri ini memang surganya. Dari satu daerah saja sudah begitu banyak kuliner yang mampu menyedot kita untuk makan terus. Saat ini banyak tempat yang menyajikan wisata kuliner khas. Uniknya dari tempat satu dan tempat lain memiliki ciri khas tersendiri. Konsep yang berbeda dan bervariasi juga disajikan untuk memikiat pelanggan.
Antri panjang, ya nyelfie dulu 😀
Seperti halnya rumah makan yang terletak di komplek GOR Purwokerto ini. di samping nama yang sangat menjual, di sini juga harganya begitu bersahabat. Dari mulai harga Rp 2.000,00 untuk sambal, Rp 3.000,00 untuk nasi, Rp 4.000,00 untuk telur dadar, karedok, terancam masing-masing Rp Rp 4.000,00 per porsi dan dimulai Rp 6.500,00 untuk menu ayam. Dengan harga yang super murah tentunya menjadi daya tarik sendiri pagi pecinta kuliner. Selain itu, tersedia berbagai menu pilihan sesuai selera.
 
Asyik, pesanan datang
Warung yang diberi nama ‘Super Sambal’ ini tentunya menyediakan varian sambal sebagai pelengkap menu. Sambal-sambal yang tersedia juga banyak variasinya, seperti sambal tomat, sambal terasi, sambal cabai hijau, sambal super pedas dan lain-lain. Kepedasan sambal juga bisa disesuaikan dengan permintaan pelanggan, seperti teman saya, Rina, dia juga memesan sambal tambahan yang sangat-sangat pedas. Dan, kalau saya, cukup sambal tomat saja, ya! Hahahaa…
 
Lapar, makan yuk ah..
Kali ini saya pesan nasi, telur dadar, karedok, sambal tomat an es teh. Sedangkan Rina memesan nasi, sambal terasi dan sambal super pedas, tempe dan tahu bakar, terancam dan es teh. Yang paling saya suka dari semua ini yaitu menu karedok. Bumbu kacangnya sangat pas dan lezat. Ditambah dengan kesegaran sayuran yang semakin menambah nikmatnya makanan ini. Kombinasi telur dadar dan sambal tomat juga ciamik. Cocok untuk lauk makan siang.

 

Jadi, buat teman-teman yang doyan makan pedas, datang saja ke warung makan Super Sambal ‘SS’ di Purwokerto.

Sekarang Kita Bisa Nikmati KFC Original di Pabuaran, Loh!

Setelah puas berfoto-foto di atas gedung Moro Swalayan, ternyata perut kita mesti diisi. Bunyi krucuk-krucuk sudah mengusik di dalamnya. Mungkin cacing-cacing sedang berdisco ria. Karena rasa lapar yang tak tertahan lagi, kita putuskan untuk mencari menu makanan yang berbeda. Kan biasanya kita makan dengan menu khas, kali ini coba masuk ke resto yang terkenal, KFC. Pabuaran, Purwokerto.

Untuk menuju ke tempat ini ternyata perlu perjuangan juga. Dari Moro Swalayan cuaca itu cerah, eh pas di jalan hujan langsung turun dengan derasnya mengguyur kita yang naik motor. Mau berhenti memakai jas hujan, rasanya juga tanggung, sebentar lagi juga sampai. Jadi, ya sudah, kita hujan-hujanan menuju ke KFC.
Untung saja tidak basah kuyup, jadi enggak malu-maluin. Sampai di lokasi, ternyata pakai antri panjang juga. Ya sudah, memanfaatkan antrian panjang, kia berdiri di dekat AC, itung-itung buat mengeringkan baju yang kebasahan.
Setelah ada tempat duduk yang kosong, saya langsung menuju ke situ, biar tidak diserobot sama pengunjung lain. Dan teman saya yang mengantri untuk memesan makanan, biarkan saja. Teman yang antri dan saya enak-enakkan duduk sambil nyelfie, jahat ya saya? Memang 😛 hihihihi..
Nunggu temen sambil nyelfie 😀

 

Beruntungnya teman saya segera datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan. 1 cup Mango Float, 1 Cup Sundae, 1 Cup Pepsi Med, 2 Nasi Organik, dan 2 Ayam Goreng Crispy. Cukup banyak yang kita pesan, ah biarkan saja, namanya juga lapar. Langsung saja deh dinikmati hidangan ini.

Ayo kita makan!

 

Untuk rasa, kita tentu tahu, ayam goreng dari KFC ini rasanya tidak diragukan lagi. Dengan bumbu yang khas dan KFC selalu memberikan kelezatan tersendiri, meski banyak yang membajaknya, tetapi tetap saja tidak ada yang mampu menyainginya.

Kalau lagi laper, pasti bersih tinggal piring sisanya 😀

 

Berhubung untuk rasa kita sudah tahu, saya coba infokan lokasinya deh. Tempat ini jujur, sangat nyaman. Cukup luas dan desain yang cukup modern. Di tempat parkir juga luas, baik untuk kendaraan roda empat maupun roda kendaraan dua. Jadi, bisa banget makan di sini baik sendiri maupun beramai-ramai dengan sahabat.

Melepas Penat dari Ketinggian Gedung

Hai-hai, semangat-semangat! Eh, ngomong-ngomong, pernah enggak kalian merasa kecewa atau sedih karena apa yang telah direncanakan itu gagal? Saya punya cerita nih, saat itu lagi pengin banget nonton film di bioskop. Berhubung cuma punya waktu pas weekend, ya ke bioskopnya di hari Minggu.
Saya dan Dyah, datang ke Bioskop Rajawali, Purwokerto memang sudah cukup siang. Sebenarnya sih berangkat pagi, tapi kami mampir dulu di salah satu toko busana yang ternama di Purwokerto. Jadi, sampai di bioskop sudah jam satu siangan deh. Loket pembelian tiket di bioskop sudah sangat full. Antrian panjang melebihi ular, berdesak-desakkan sana sini. Panas meski ruangan ber-AC. Tapi saya tetap maklumi, ini weekend.
Tapi sedihnya, pas giliran tinggal beberapa orang di depan Dyah (teman saya yang ngantri, saya mah nyantai aja 😀), petugas loket memberitahukan pengumuman bahwa tiket untuk jadwal film di jam 13.30 sudah terjual habis, bisssss… Mau pesan tiket di jam empat sore, enggak jadi karena pulangnya yang bakal kemalaman. Ya sudah, kecewa, sedih, manyun.
Ini teman ‘kencan’ saya, Dyah 😀 jomblo juga, hahaha
Akhirnya, sebagai ganti kecewa kita coba refreshing otak. Jalan-jalan ke pusat belanja yang cukup terkenal di Purwokerto, Moro Swalayan. Dari lantai satu hingga food court yang di lantai empat, kita jelajahi. Berjam-jam kita di sini. Setelah itu, dari food court, kita melihat ada sebuah tempat yang cocok untuk ‘bunuh diri’, eh maksudnya buat narsis dan ngalay.
Berasa anak alay 😀
Ini adalah atap gedung dari Moro Swalayan, cukup ramai ternayta. Dari ketinggian ini kita bisa menikmati udara yang sejuk. Melihat pemandangan ke bawah yang komplek dengan bangunan rumah dan gedung-gedung lainnya. Beruntung masih banyak tumbuhan yang memberikan warna hijau nan adem di mata. Pandangan dari atas gedung ini cukup menawan juga.
Kita jomblo, cuma bisa peluk temok 😀
Kita juga bedua juga tidak mau ketinggalan dengan anak-anak yang lain. Ya, apalagi selain foto-foto di sini. Ternyata objek yang diambil cukup bagus. Pencakar bumi atau tiang penyangga gedung menjulang ke atas berjejer rapi.
Ya, setidaknya ini bisa mengobatai rasa sedih dan kecewa karena gagal nonton. Dan, tak disangka pula, ketemu sama Vhety dan saudaranya. Mereka juga sama sedang kecewa karena tidak kebagian tiket nonton. Ah, dunia ini terkadang sempit juga ya, ketemunya sama itu-itu mulu. Hahahaha 😀

 

Udara di sini segar nan sejuk. Hingga tak terasa juga menghabiskan waktu di sini. Tapi ingat, jangan coba-coba untuk melakukan hal negatif di sini. JANGAN LONCAT DARI ATAS GEDUNG, karena BERBAHAYA. Apapun masalahnya, jangan sampai deh, sayangi diri kita. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya.