Sepenggal Cerita Liburan di Pantai Ayah

By Eri Udiyawati - 13:18:00

www.erycorners.com
Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, bahwa saya pernah ke Pantai Ayah untuk menikmati sunset. Dan kali ini tentang Pantai Ayah pun belum berakhir. Ini Ketika saya datang di libur panjang lebaran. Saya datang bersama suami, dan dua adik laki-laki saya. Awalnya itu kami mau ke Jogja, tapi jalannya macet parah. Daripada saya jengkel sepanjang jalan, akhirnya pas di daerah Kebumen, kami ambil arah ke kanan menuju Kecamatan Ayah. Okaylah, akhirnya ke Pantai Ayah lagi. Tiket masuk per orang Rp 10.000,00. Untuk tiket parkir kendaraan lupa saya, karena enggak saya baca secara seksama juga. Yang penting masuk ke kawasan wisata Pantai Ayah atau yang dikenal juga dengan Pantai Logending.

Berhubung ini momen libur lebaran, tentu pengunjung yang datang sangat padat. Keunikan dari pantai ini ialah memiliki hutan bakau yang rindang. Dan cukup instagramble kalau foto di jembatan yang di sampingnya terdapat hutan bakau. Sehingga enggak heran deh, banyak pengunjung yang foto-foto di situ bahkan ramai banget, padahal cuaca panas sekali. Daripada lama ngantri di situ, kami mending naik perahu. Tiket per orang untuk keliling dengan naik perahu sebesar Rp 20.000,00. Kami naik perahu kecil untuk mengitari perairan yang terdapat di Pantai Ayah. Lebih masuk ke dalam lagi ternyata banyak juga tanaman bakau di kawasan ini.

www.erycorners.com
Mari kita melaut, karena nenek moyang kita seorang pelaut (apaan sih, kagak nyambung)


Saya suka dengan pemandangan sekitar, melihat ke samping banyak tanaman bakau dan lainnya yang subur dan kaya warna hijau. Selain membuat indah pemandangan, hutan bakau juga bagus untuk mencegah terjadinya erosi abrasi pada pantai. Bisa menanggulangi bencana dan mencegah instrusi air laut. Ini penting banget, agar air laut yang ke daratan bisa dicegah atau ditahan oleh tanaman bakau, karena kalau tidak ada tanaman bakau, air laut akan masuk ke daratan dan bisa mencampuri air tawar. Sehinga air tawar rasanya ikutan asin. Dan juga sebagai tempat tinggal beberapa spesies hewan laut, mereka ada yang betah di dalam hutan bakau atau mangrove. Semoga tanaman ini tidak dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.

www.erycorners.com
Menikmati sensai ombak kecil, asyik juga ternyata :D

Setelah mengelilingi perairan yang kurang lebih dua puluh menitan, kami mendarat di pantai. Tempat pendaratan dengan lokasi naiknya berbeda, ini di sebelah timur pantai, jadi mau enggak mau kalau mau pulang, harus melewati jembatan yang instagramable itu. Tapi panas, Guys. Buat saya ini mah bukan instagramable, karena momen pas datang di sini lagi menyenga-menyengatnya. Selain itu banyak sekali yang orang yang berlalu lalang, karena memang waktu liburan.

www.erycorners.com
Melihat yang ijo-ijo itu bikin mata adem, seger deh


Dan pada akhirnya kami juga melewati jembatan ini, mencoba mengambil beberapa foto tetapi memang pancaran wajahku itu kalah jauh dengan sinar matahari yang terik. Jalan berapa meter saja kami sudah ngos-ngosan, ketahuan kan jarang olahraga. Untung saja ada semacam pos di jembatan ini, sehingga kami berhenti sejenak, berteduh sambil menikmati angin yang cukup kencang dari laut.

www.erycorners.com
Rehat sejenak dulu dah....

Selanjutnya, kami menuju warung makan dong, udah keliling hutan bakau, jalan dari jembatan menuju bibir pantai itu juga mengurus tenaga. Saatnya hunting makanan biar perut enggak protes. Mau makan apa di sini banyak sekali yang berjualan. Sepanjang bibir pantai banyak warung-warung makan yang menyediakan berbagai makanan. Ada soto, bakso, mie ayam, gecot, pecel, rujak, aneka gorengan, aneka jus, air mineral dan sebagainya. Kami berempat memesan gecot dan air mineral serta mendoan dan bakwan. Saking laparnya, damn, lupa difoto buat kasih feed Instagram. Sadar-sadar makanan sudah habis dan bersih. Wkwkwkwk . Jumlah yang kami bayar waktu itu semuanya Rp 80.000,00. Ya, masih harga wajar menurut kami. Meskipun harga lebih mahal dari warung yang bukan tempat wisata, tapi ini harganya enggak beda jauh lah. Seingat saya gecotnya itu Rp 10.000 an per porsi dan mendoan atau bakwan Rp 1.000 per buahnya. Jadi, masih umum, Guys

Perut sudah kenyang selanjutnya kami menuju ke parkiran. Hari masih cerah, belum sore, masih jam dua siang. Mau pulang kayaknya terlalu cepat, sehingga kami menuju ke timur lagi, ke pantai yang dekat dengan Pantai Ayah. Yupz, jaraknya hanya 800 meter dari Pantai Ayah. Pantai apakah itu? Tunggu cerita saya selanjutnya ya. 

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, sampai jumpa di lain cerita. ^^

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Saya juga pernah main ke pantai Ayah mbaa..biasanya tiap Lebaran karena keluarga besar orang tua orang Kebumen semua. Tapi sekarang-sekarang lebih sering ke pantai Petanahan atau pantai Karangbolong yang lebih deket. Dan bener sihh kesana itu pasti makan tempe mendoan di pinggir laut. Rasanya beda aja gitu sama kalau bikin sendiri hehehe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Maaf, komentar dimoderasi untuk mengurangi komentar spam yang masuk. :)