5 Tempat Wisata Kece untuk Menikmati Libur Akhir Tahun

Tahun baru sudah di depan mata. Yes, ini bulan Desember 2018.

Biasanya nih, kalau akhir tahun suka pada liburan gitu ya? Nah, sebaiknya mulai saat ini rencana liburan segera ditentukan. Biar apa? Ya tentu biar enggak kehabisan tiket, dong. Karena kalau booking tiket mendadak di hari-hari seperti ini, seringnya keapesan yang melanda kita.

Continue reading

Chicken Popop, Jajanan Masa Kini yang Enak dan Wajib Kamu Nikmati

Apa itu Chicken Popop?
Kenalan dulu yuk. Merupakan salah satu produk makanan yang berbahan baku ayam. Ditambah varian rasa yang banyak sehingga mampu menarik peminat yang beli atau bahkan yang akan berjualan Chicken tersebut. Karena memang Chicken Popop ini salah satu Waralaba Franchise ayam goreng dengan modal yang sangat terjangkau. Sehingga mampu membuka peluang bisnis yang sangat menguntungkan.

Hal itu juga terjadi karena hampir semua orang yang ada di Indonesia menyukai daging ayam. Dengan begitu cukup mudah untuk memasarkan olahan ayam yang tentunya dengan rasa enak, higienis dan menarik.

Baca juga : Ayam Geprek Bae, Hidangan Murah yang Menjadi Buruan

Konsumen yang membeli juga bukan cuma orang dewasa saja, melainkan bisa dikonsumsi anak-anak. Target marketing yang cukp bagus sebenarnya yang dibuka Chicken Popop ini. Tak heran, sekarang outlet-outletya telah menyebar di beberapa kota yang terkenal seperti Yogyakarta, Cilacap dan Kabupaten Banyumas.

Chicken Popop Purbalingga

Chicken Popop Hadir di Purbalingga.
Untuk yang tinggal di Purbalingga saat ini jangan khawatir enggak bisa menikmati sensasi gurih dan beraneka rasa dari Chicken Popop. Karena sekarang outletnya telah ada di Purbalingga. Chicken Popop Purbalingga ini dimotori oleh sepasang suami istri yang mulai getol dalam menjalankan wirausaha. Dari mulai jualan Frozen Food sampai berani untuk membeli Waralaba Chicken Popop. Dan kini, outletnya pun sudah bertengger.

Outlet Chicken Popop Saat Festival Bakul Online Purbalingga

 

Baca juga : Menikmati Sensasi Pedas dan Gurih Ayam Geprek Bu Rum

Kala itu saya sedang jalan-jalan untuk mengunjungi Festival Bakul Online Purbalingga yang digelar di GOR Goentoer Darjono, dan kebetulan saya menemukan outlet Chicken Popop juga. Tak ambil pusing, tentu saya ikut mengantrinya. Saya coba rasa barbeque yang mana jadi buruan para pembeli, rata-rata pesannya rasa barbeque.

Rasanya banyak, Guys..

Untuk varian bumbu tabur itu terdiri dari rasa Barbeque, Cabai Pedas, Rumput Laut, Saping Panggang, Balado dan Keju. Sedangkan yang pakai pakai saus ada pilihan rasa Saus Keju, Saus Barbeque dan Saus Blackpaper.

Okay, kita lumuri tepung dulu ya, ayamnya.

 

Pokoknya sibuk banget mereka.. hehehe

Proses penggorengannya ini juga kita bisa lihat, jadi kita tahu kalau Chicken Popop ini bener-bener fresh baru digoreng. Bahkan ketika saya datang, penjualnya juga melumuri bumbu ayam di tempat itu. Jadi kita bisa langsung lihat juga, bumbu dan atau tepung apa yang dipakai. Kalau dilihat secara sekilas buatnya memang mudah ya. Pertama ayam dilumuri tepung yang sudah diberi air dan berbumbu. Kemudian digulirkan pada tepung kering, selanjutnya digoreng.

Akhirnya dapat juga saya…

Saat menggorengnya juga tidak terlalu lama karena api kompor menyala dengan kencang. Hehehe, setelah daging ayam berwarna kecokelatan, itu tandanya sudah matang. Ayam goreng itu pun segera ditiriskan. Dikemas ke dalam wadah kertas dan ditaburi bumbu sesuai dengan permintaan pembelinya. Atau bisa ditambah dengan saus. Kan sedap gitu, ngemilnya enak, sehat dan terjamin rasanya. Dan yang paling mengasyikan, bisa dinikmatin oleh anak-anak atau orang dewasa.

Mari kita menikmatinya

Harga Chicken Popop ini juga tergolong murah. Mulai dari Rp 10.000 kita bisa menikmati jajanan yang enak dan kekinian masa kini. Di Purbalingga Outlet Chicken Popop terletak di depan Toko Selera, atau sederet dengan Masjid Agung Darussalam Purbalingga.

Baca juga : Konsep Klasik Berikan Warna Beda dari Kedai Kebun

Jadi cocok banget nih, jalan-jalan ke kota Purbalingga menikmati ayam goreng kekinian dengan harga yang sangat bersahabat. Ayo, dolan Purbalingga dan nikmati Chicken Popop.

The Village Purwokerto, Tempat Wisata Unik dan Instagramable

Purwokerto, salah satu kota yang terkenal di Jawa Tengah, menyimpan banyak kenangan dan sekaligus kebahagiaan. Bahkan banyak orang yang latah menamai daerah di sekitar Purwokerto merupakan daerah Purwokerto. Salah satunya ialah The Village Purwokerto. Memang lokasi wisata tersebut tidaklah jauh dari Kota Purwokerto, dan alamat aslinya terletak di Jalan Raya Baturraden KM 07, Rempoah, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Namun, untuk memudahkan para pengunjung termasuk saya juga yang latah, memang lebih enak mengatakan itu sebagai The Village Puwokerto.

Tampak luar dari The Village Purwokerto

The Village ini merupakan salah satu wisata baru yang langsung hits dan menarik perhatian pengunjung. Dengan konsep bangunan ala-ala Eropa serta di dalamnya terdapat wisata edukasi kesenian, hal itu menjadikannya sangat menakjubkan. Saya pun pas datang ke sini langsung takjub dan terheran-heran. Walau pada saat itu saya datang di cuaca yang tidak begitu cerah, iya, setelah hujan rintik-rintik mengguyur bumi Purwokerto dan sekitarnya.

Baca juga : Jalan-jalan ke Purwokerto? Jangan Lewatkan untuk Nyicipin Kue Serabi yang Lezat ini

Sebenarnya saya datang ke sini juga sudah lama nih, tapi baru sempat saya tuliskan di blog ini pada hari ini. Hihihi, maaf, sok sibuk. Waktu itu saya datang dalam acara GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Banyumasan yang terdiri dari Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap. Saya sendiri mewakili teman-teman dari Purbalingga.

Okay, dari Kiri ke Kanan : Eka, Mba Idah, Me (Ery), Rois, Rizky, dan Mba Olipe

 

Jembatannya emang cakep banget sih..

Acara jalan-jalan ini sangat menarik karena The Village memiliki luas sekitar 2,8 hektar. Yang mana kita bisa berjalan-jalan untuk menikmati keindahan di setiap sudutnya. Ada danau buatan yang ada kapalnya juga. Dan kita bisa naik juga di situ. Terus ada beberapa binatang yang dipelihara, tempat-tempat yang unik atau game unik. Serta Food Court dengan ruangan yang sangat menjanjikan.

Baca juga : Menikmati Lezatnya Nasi Padang di Rumah Makan Sako Bundo

Suka sama area permainan ini

 

Area di sini ada kelincinya, tapi ini lagi gak mau keluar nih kelincinya. Mungkin malu sama saya. hahaha

 

Di dalam Food Court yang nyaman.

Baca juga : Ayam Geprek Bae, Hidangan Murah yang Menjadi Buruan

Dengan segala bentuk keindahan tersebut, tak heran kalau setiap harinya pengunjung terus berjubel untuk menikmatinya. Selain itu, ada juga hamparan taman yang cukup luas sehingga menambah daya tarik sendiri bagi wisatawan. Dan hal yang saya sukai dari tempat wisata ini ada banyak spot-spot foto yang instagramable. Baik dari jembatan, taman bunga, rumah kaca dan lainnya.

Jembatan ini adalah favorit bagi pengunjung, termasuk saya.

 

Taman bunga yang cantik.

Tempat wisata ini juga sangat cocok untuk liburan bersama pasangan, sama pacar, teman, atau bahkan sama keluarga. Tempatnya nyaman dan enak, menjadikan orang yang berkunjung ke sini juga semakin betah. Ditambah lagi, harga tiket hanya dibandrol Rp 18.000 per orang.

Bangunannya cakep-cakep.

Untuk rute menuju The Village, saya pahamnya mulai dari Purwokerto-nya nih, dari arah Purwokerto menuju arah Pabuwaran, kemudian lurus terus ke utara melewati Perumahan Raflesia. Nah dari situ masih lurus ke utara sedikit, kemudian di kanan jalan ada tempat parkir yang luas dengan view gedung-gedung tinggi nan unik. Di situlah lokasi The Village Purwokerto.

Jadi, yuk kita main ke The Village.

 

Photo from : Eka Can (IG @masekacan) dan Rizki Ramadan (IG @rizkichuk)

Menikmati Keindahan Pantai Lampon Bak Pulau Pribadi

Pantai merupakan tempat yang sangat saya sukai. Jadi sebisa mungkin itu kalau weekend penginnya ke pantai terus. Namun harapan tetap menjadi harapan, karena pada kenyataannya, kalau weekend juga ada acara atau beberapa hal yang harus dituntaskan. Jadi ya, ke pantai sesempatnya saja.

Akhir-akhir ini saya sangat menyukai pantai-pantai di Kebumen yang sangat eksotis. Meskipun hanya beberapa pantai saja yang saya singgahi. Pantai yang gagal saya singgahi ialah Pantai Wedi Putih dan Pantai Karang Agung . Bukan apa-apa, tapi menuju ke pantai tersebut kita harus ekstra hati-hati. Menuju pantai itu kita harus jalan kaki menuruni bukit. Jalan setapak yang sepi, kanan-kiri hutan menjadikan kami takut. Padahal sudah sampai tengah perjalanan menuruni bukit, tapi kami urungkan. Selain itu, mengingat waktu kami datang juga sudah sore, jadi ya, lebih baik pulang saja.

Baca juga : Asyiknya Bermain Ombak di Pantai Suwuk

Berbicara tentang pantai di Kebumen yang harus menyusuri perbukitan memang banyak ya. Bahkan ada yang sudah terkenal yakni Pantai Menganti. Saat sekarang Pantai Menganti aksesnya jauh lebih mudah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Sekarang sudah enak.

Baca juga : Mengungkap Alasan Mengapa Pantai Ini Disebut ‘Pantai Karang Bolong’

Tapi ini bukan mau cerita tentang Pantai Menganti, melainkan pantai yang masih jauh ke atas sana. Pantai yang dijadikan sebagai penangkapan ikan oleh Nelayan. Bahkan di sini ada tempat penjualan ikan segar. Tapi saya lagi, pas saya datang ke sini, sudah siang, jadi ikan sudah habis lah.

Pas banget datang ke sini saat cuaca cerah. Ini saya lagi di depan pelabuhan atau dermaga kecil khusus untuk kapal-kapal Nelayan di Pantai Lampon

Pantai ini bernama Pantai Lampon. Pantai yang terletak di atas perbukitan. Untuk datang ke sana juga perlu perjalanan yang kudu ekstra hati-hati. Dimulai dari Kecamatan Ayah, Kebumen, yang banyak pantai-pantainya, kami terus menyusuri jalan ke timur. Jalan yang meliuk-liuk sangat membutuhkan konsentrasi dalam berkendara agar tidak terjadi hal-hal buruk. Sepanjang jalan raya-nya, kanan kiri ialah pephonan. Rumah-rumah masih jarang. Ya ada banyak juga rumah, namun tidak sepanjang jalan itu. Jadi, sesudah perbukitan itu ada rumahh-rumah warga, terus perbukitan lagi, begitu terus sepanjang jalan.

Di perjalanan yang sudah sudah mendekatinya, terlihat air laut itu ada di atas jalan. Sangat terlihat jelas ombak saling berkejaran. Sungguh menawan. Masih di jalan sudah disungguhkan dengan pemandangan yang rupawan. Tak berapa lama kemudian kami sampai juga gerbang di Pantai Lampon. Banyak kapal-kapal Nelayan yang ada di situ. Terus kami memarkirkan sepeda motornya. Tiba-tiba ada seorang bapak menghampiri kami. “Mas, mau ke wisatanya ya?” tanya bapak itu ke suami saya.
“Iya, Pak, apa benar ini Pantai Lampon?” balas suami saya.
“Iya, benar, tetapi ini dermaga saja, Mas, untuk Nelayan yang menangkap ikan. Kalau mau ke wisatanya ke atas lagi,” jelasnya.
“Oh, ya, Pak terima kasih,” jawab kami kompak.Terus kami melongo lagi gitu kan, ternyata harus ke atas lagi. Okay, kami melaju dengan kendaraan lagi. Dan.. jeng jeng.. jalannya ampun dah. Jalan masih sempit dan sebagian rusak. Sudah begitu sangat menanjak. Melalui jalan ini asli ngeri-ngeri sedap mah.

Cantik banget kan view Dermaga dari atas?

Dalam perjalanan kami memiliki kesempatan untuk melihat dermaga dari atas. Ternyata bagus banget. Banyak kapal-kapal kecil yang berjejer rapi di bawah sana.

Okay, setelah lima menit kami sampai juga di pintu gerbang Pantai Lampon yang sesungguhnya. Pintu masuknya cukup dibuat unik, karena ada taman bunga kecil. Kemudian di dekatnya ada loket untuk masuk ke pantai. Kami membayar Rp 20.000 untuk dua orang, sudah termasuk parkir dan spot foto selfie di lokasi pantai. Spot photo selfie? Saya sendiri tidak tahu apa maksudnya nih. Tapi ya sudahlah. Kami langsung menuju ke parkiran.

Okay, Guys.. kita menuruni bukit dulu menuju ke Pantai

Sudah ke parkiran saya tengok kanan kiri, mana pantainya? Kemudian ada seorang laki-laki yang merupakan bertugas di situ menghampiri kami. Dia memberitahukan kepada kami, untuk ke pantai harus menuruni bukit terlebih dahulu. Saya meringis saja. Dan saya tahu suami saya itu enggan sekali kalau harus jalan kaki menyusuri perbukitan.

Salah satu spot photo di Pantai Lampon. Abaikan gaya saya ya embuh ya. Itu mau lompat tinggi tapi takut ambles karena kekuatan berat badan saya. hahahaa

Tentang spot photo selfie saya jadi mudeng sekarang. Karena di sini di atas bukit, jadi ada spot-spot untuk foto dengan latar belakang lautan. Cukup menarik memang dan di sini juga banyak orang. Saya juga tidak banyak foto-foto di sini. Terlebih lagi saya juga kurang suka kalau ke pantai cuma foto-foto saja dari atas, terus tidak ‘nyicipin’ air lautnya. Ya kurang afdol lah kalau menurut saya.

Ngos-ngosan juga

So, kami jalan lagi menuruni bukit dengan jalan setapak terjal. Kaki cukup pegal-pegal juga. Beberapa kali kami berhenti untuk mengatur napas dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Untung saja tidak terlalu jauh.

Asyik, pantainya masih bersih dan sepi. Terus di batu karang itu ada air terjun kecil. Dan lagi-lagi saya gagal melompat, kalau ini bukan takut ambles karena berat badan. Tapi karena memang sulit untuk melompat karena berat badan. Hahahaha. Sama aja lah ya

Di Pantai Lampon ini yang turun ke bawah ternyata hanya kami, pengunjung lain hanya menikmati foto-foto di atas. Sehingga kami merasakan berada di Pulau Pribadi. Ya gimana enggak disebut mirip pulau pribadi, di sini kami cuma berdua, yang ketiganya air laut, yang keempatnya batu karang dan lainnya ada pepohonan.Di batu karang yang kecil ada aliran air tawar dari atas bukit. Jadi kayak ada semacam air terjun mini yang kemudian bergabung ke air laut. Dan kami di sini tentu saja cekakak-cekikik, berjalan dari utara ke selatan, timur ke barat, dengan bebas. Ya karena cuma berdua. Jadi merasa nyaman aja. Mau foto di mana aja boleh, mau lama-lama ngobrol juga boleh. Enggak ada yang mengantri. Main air sampai puas juga bolehlah.

Pengennya sih maju mundur cantik

Baca juga : Piknik Special Bersama Orang Special di Pantai Sundak

Pokoknya seneng deh

Setelah itu dilanjutkan dengan main ayunan. For your information ya Guys, kalau di sini ada ayunan juga. Jadi kalau sudah bosen main air bisa sambal istirahat atau makan dengan bermain ayunan. Enak banget rasanya.

Aku bilang, mereka cukup kreatif untuk menyediakan ayunan di pinggir pantai

Terus, di Pantai Lampon ini juga masih bersih. Airnya masih bening dan pantainya belum ada sampah berserakan. Paling-paling cuma ranting pohon dan daun yang pada gugur aja. Jadi kalau ke sini, kita juga mesti jaga kebersihannya. Bawa sampah kita juga ya. Baik itu botol air mineral, bungkus camilan atau lainnya. Masukan ke tas kita. Nanti di atas ada tempat sampah, kita bisa membuangnya di situ.

Berhubung waktu sudah menunjukan jam 4 sore, kami pun memutuskan untuk pulang. Kami sebenarnya ingin menikmati senja di sini, tetapi mengingat perjalanan jauh dan cukup terjal, kami juga tidak berani mengambil resiko yang terlalu tinggi. Akhirnya kami putuskan menyudahi bermain di Pantai Lampon.

Untuk kembali ke parkiran, kalian pasti tahu kan bagaimana rasanya. Pas turun aja tadi kaki pegal-pegal, apalagi ini yang menanjak. Huah… asli ini mah luar biasa. Beberapa meter jalan terus berhenti, begitu seterusnya sampai ke tempat parkir.

Jadi, buat teman-teman yang mau berkunjung ke Pantai Lampon, jangan lupa untuk menyiapkan kesehatan fisiknya ya. Latihan dulu lah jalan yang agak panjang biar enggak kaget. Terus bawa air mineral secukupnya.

Okay, terima kasih.

PANTAI LAMPON

Hutan Pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen

Jawa Tengah 54473

My 2018 Best Moment : Antara Jogja dan Solo yang Penuh Kenangan

Best Moment yang kami miliki di tahun 2018 masih sama dengan tahun 2017, yakni liburan bersama pasangan. Harap maklum, kami masih dalam kategori pengantin baru, jadi ya, ngalor, ngidul, ngetan, ngulon, enak kalau berdua sama pasangan. Di tahun 2018 ini ceritanya memperingati anniversary ke 1 usia pernikahan. Alhamdulillah, umur pernikahan kami sudah menginjak satu tahun. Mohon doanya juga ya, semoga kami cepat diberi buah hati, dan usia pernikahan kami langgeng, pokoknya kata orang itu sehidup sesurga. Meskipun menuju surga, kami belum punya sangu apa-apa (khsusunya gue).

Okay, balik lagi ke topik tengan best moment di tahun 2018. Rencananya kami mau memperingati hari pernikahan itu tepat di bulan Juli di mana kami menikah, tetapi, amit-amit banget dah, bulan Juli 2018, tanggal merahnya cuma hari Minggu. Lah kan kami sama-sama orang yang sok sibuk di kantor (catet, ini lagi pamer) yang mana mau libur itu harus menyusun jadwal dan agendanya secara rapi (sibuknya udah mirip menteri saja). Sehingga bulan Juli kami skip untuk tidak liburan, ditambah lagi jadwal kondangan itu padat merayap. Liburan untuk honeymoon part ke sekian kalinya kami tunda di bulan Agustus 2018.

Dari abis lebaran memang ya, jadwal kondangan itu luar biasa. Eh, btw, bulumataku yang cetar membahana anti badai, anti tsunami itu kelihatan, enggak? 😀

Pas banget tanggal 17 Agustus 2018, merupakan hari kemerdekaan kita, tentu tanggal merah, kami libur. Tidak perlu pikir panjang kita mau liburan ke mana, langsung booking hotel via online. Pagi pukul 09.00 WIB kami berangkat dari sebuah desa kecil di Kabupaten Purbalingga. Kami berboncengan mengendarai sepeda motor (kan gokil ke Jogja naik motor berdua). Pagi itu juga kami tidak langsung ke arah Jogja, melainkan kami harus mampir ke Bobotsari dulu untuk kondangan, terus kami menuju arah Purbalingga kota untuk kondangan (lagi). Okay dah, jam 11 siang pun kami masih di daerah Kalimanah, Purbalingga. Istirahat sejenak sambil ngefull-in bensin.

Selanjutnya kami meluncur dengan kecepatan tinggi. Pukul 11.30 kami pun sudah sampai di daerah Tambak, Banyumas. Kami melipir ke masjid, untuk istirahat dan suami Salat Jumat. Jam satu siang kami kembali bergegas melewati perjalanan yang cukup ramai. Perjalanan kami melewati jalur kota, karena kami punya tujuan, yakni mampir ke Purworejo untuk menikmati Dawet Ireng di timur Jembatan Butuh. Namun pas ke situ, sudah habis, duh, kecewa. Langsung kami meluncur lagi. Berhubung haus dan lapar, kami berhenti di salah satu warung dawet ireng yang masih tersedia. Meski rasanya enggak seenak yang di timur Jembatan Butuh, setidaknya cukup melepas dahaga juga.

Salah satu menu wajib ketika kita singgah di Purworejo. Yang paling enak itu yang di Timur Jembatan Butuh

Baca juga : Demi apa, ke Purworejo cuma gara-gara Dawet Ireng!

Dari Purworejo kami menuju arah Bantul, Yogyakarta, ini biar lebih mudah ke hotel yang kami pesan, di daerah Jalan Parangtritis. Selain itu juga biar tidak macet. Alhamdulillah, pukul 15.30 kami sampai di Jogja dan langsung check in hotel untuk istirahat. Goleran di kasur empuk, ada TV LCD Flat, ada camilan, kamar mandi dalam, bisa mandi air hangat, sudah begitu di samping pasangan halal. Kan jadi males ke mana-mana. Hihihihi. Enggak tahu kenapa sudah sampai Jogja malah malas jalan-jalan, yang ada menikmati kamar.

Suasana malam Alun – Alun Kidul Yogyakarta. Duh, fotonya enggak jelas, abis bukan pakai HP Huawei Nova 3i sih.

Sekitar jam delapan malam, saya mulai kelaparan. Di tas saya sih ada makanan, yakni mie cup instan oleh-oleh kondangan. Tapi masa ya makan mie lagi mie lagi. Jadi kami keluar deh, itung-itung menikmati Jogja di malam hari. Kami menyusuri jalan malam di Jogja, muter-muter naik sepeda motor, kan romantis. Terus berhenti di Alun-Alun Kidul yang padat merayap, jalannya super macet. Masuk ke sini sebenarnya pengen sama kayak orang-orang, mata ditutup pakai kain terus melewati dua pohon beringin. Tapi kata suami, “Buat apa sih, enggak penting,” hiks, menyebalkan. Dan berhubung kami lapar, akhirnya kami menepi ke para penjual makanan. Ramai semua, padahal perut udah berdiskoan harus segera diisi.

Baca juga : Cita Rasa Indomie Real Meat Ayam Jamur Lezatnya Bikin Ketagihan

Nasi Goreng Kambing, ini asli enak. Saya suka, saya suka.

Setelah memilah dan memilih, kami mampir di warung lesehan sebelah timur Alun – Alun Kidul. Saya memesan nasi goreng kambing, dan suami pesan nasi dengan puyuh bakar. Untuk minum, cukuplah air mineral saja (hemat :D). Menunggu makanan di sini harus punya stock sabar yang sangat panjang, karena yang mengantri luar biasa. Pas giliran makanan datang, kami cekrek-cekrek pakai HP dong. Setelah itu baru dinikmati. Rasanya memang enak. Nasi gorengnya pas, daging kambingnya empuk dan enggak bau embek. Sedangkan puyuh bakarnya bumbunya meresap dengan sempurna.

Kalau ini Nasi dan Puyuh Bakar pesenan suami. Daging burung puyuh ternyata empuk juga.

Malam masih belum larut, tapi kami kembali lagi ke hotel untuk istirahat, karena esok kami akan melanjutkan perjalanan lainnya.

Sabtu pagi, jam delapan, kami sedikit cek-cok tentang tujuan destinasi mana saja yang harus kita kunjungi. Setelah debat yang menghasilkan ketawa cekikikan, kami memutuskan untuk mengunjungi Tifosi Fustal, yang mana teman-teman suami lagi pada tanding di situ. Kan absurd banget, mau liburan malah nonton fustal dulu. Untungya di situ cuma beberapa menit, terus kami lanjutkan perjalanan. Sambil ngobrol kami menentukan tujuan wisata ke Candi Prambanan. Eh, sudah di daerah Prambanan, suami tiba-tiba bilang, “Kita ke Solo aja ya, Prambanan kan sudah sering,” yo wislah lanjut ke Solo. Di tengah perjalanan kami kelaparan karena memang cuma sarapan sedikit dari yang sudah disiapin di hotel. Dan menu andalan kami di jalan tentu nasi padang. Kami makan dengan lahap dan cepet-cepet. Selesai makan cabut ke Solo.

Sampai Alun – Alun Solo cuma buat ngadem dan beli air mineral.

Sampai Solo itu di tengah hari. Cuaca panas dan macet. Terlebih di sini banyak event di jalanan seperti pawai budaya. Muter-muter akhirnya sampai di Alun – Alun Solo, cuma ngadem di bawah pohon beringin dan beli air mineral. Selepas itu, lanjut ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Tiba di daerah keraton, ada tukang becak menghampiri kami, menawarkan keliling keraton naik becak dengan tarif Rp 50.000 per becak. Tanpa pikir panjang kami mengiyakan.

Denah Lokasi Keraton dalam bentuk miniatur. Sekali lagi ini enggak pakai Huawei Nova 3i jadi hasilnya burem, hiksss

 

Ketahuan kan, saya motonya pakai HP.

Rute pertama kami ke keraton, foto sana sini, peninggalan-peninggalan sejarah dari Kerajaan Mataram. Banyak sekali benda-benda yang menarik di sini, dan pengunjung dilarang menyentuhnya. Ya, karena benda-benda yang ada di dalam keraton itu kan sudah tua dan berumur ratusan tahun, takutnya kalau disentuh, malah makin lapuk dan rusak.

Entah lagi gaya model apa. Sebenarnya pengen foto yang ala-ala gitu. Tapi saya, kamera HP-ku tak sekeren Huawei Nova 3i

 

Hayo, siapa yang tahu ini apa? Ini namanya Lesung. Di zaman dulu, biasanya digunakan untuk menumbuk padi, biar kulit gabahnya terkelupas dan berasnya bisa kita masak.

 

Kalau lihat ini, saya jadi membayangkan masa lampau. Bagaimana mereka cara membuat kereta ini, terlebih rodanya itu dari orangnya, tinggian roda. Keren abis.

Puas di keraton, kami melanjutkan perjalanan dengan becak. Mengililingi keraton yang katanya luasnya sampai 52 hektar. Terus kami juga diantar ke kampung Batik, Kauman, Solo. Harganya murah meriah, beli baju batik cuma seharga Rp 35.000. Tapi sayang, kami enggak bisa foto-foto di sini. Karena HP saya lowbat, HP suami eror. Ya maklum juga lah ya, karena bukan pakai HP Huawei Nova 3i. Dan terakhir kami menikmati es cendol di halaman keraton. Selepas itu kami kembali ke Jogja. Untuk istirahat.

Suka melihat yang ini di Keraton Surakarta Hadiningrat.

 

Ruangan ini, saya juga suka. Samping kanan dan kiri saya banyak benda-benda peningalan sejarah Kerajaan Mataram.

Moment-moment tersebut merupakan moment paling indah di hidup kami. Banyak canda, tawa, dan tentunya debat yang menjadi bumbu, namun kami bisa bahagia. Dan sebenarnya juga, My 2018 Best Moment kami juga bukan cuma itu, karena dari Solo, kami lanjut ke Tebing Breksi untuk menikmati sunset. Tapi, sayang, enggak terabadikan. Lagi-lagi, HP sudah tidak kuat. HP saya sampai lowbat, sedangkan HP suami panas karena on terus. Nge-lag gitu. Kan sebel jadinya.

Menuju kembali ke hotel kami juga ada drama, turun dari Tebing Breksi, kami harus mencari pom bensin terlebih dahulu karena bensin habis. Kami melewati jalan kecil untuk menuju pom bensin. Alhamdulillah masih sampai ke pom, tidak jadi nuntun sepeda motor. Coba bayangkan kalau motor sampai mogok, duh parah bener. Sampai di hotel sekitar jam sembilan, langsung istirahat, persiapan untuk esok harinya meski cuma ke Malioboro.

Niatnya sih kami ingin menikmati Sunday Morning di Malioboro, tapi apa daya, jam 10 baru nongol di 0 KM Yogyakarta. Hehehe

Kalau begini saya jadi pengen punya HP baru. Menyoal HP atau smartphone, di tahun 2018 memimpikan punya smartphone yang jelas designnya keren, kameranya sudah diperkuat dengan teknologi AI, storagenya juga harus besar, setidaknya 128 GB,  biar bisa menampung semua momen berharga bersama suami untuk dikenang. Terus kalau lagi buat ngegame juga enggak perlu takut HP cepet panas atau blank. Dengan spesifikasi yang seperti itu, saya jadi ingin punya HP Huawei Nova 3i yang sangat keren. Selain itu, ada beberapa hal kenapa saya suka dengan smartphone tersebut, seperti hal-hal berikut ini :

Pertama, Huawei Nova 3i memiliki design yang keren

Ish, designnya keren abis. Elegan banget, kan?

Design HP ini memang luar biasa, apalagi ada dua varian yakni warna hitam dan iris purple. Dengan layar 6,3 inch FHD+ (2340 x 1080). Meskipun layarnya tergolong gede, tapi tenang aja, masih muat di saku kok. Terus yang bikin saya ngebet banget buat punya Nova 3i ini, bodynya slim, warnanya okay. Pokoknya elegan banget dah.

Kedua, Kamera sudah dilengkapi dengan teknologi AI

Dengan dilengkapi Camera AI, foto yang dihasilkan bakalan jernih, bening dan bisa bokeh.

Siapa sih yang enggak pengin hasil jepretannya kece, terus bokeh pula? Saya salah satunya. Ingin begitu, pengin banget hasil fotonya itu bagus dan bisa bokeh, meski cuma pakai kamera HP. Nah, Huawei Nova 3i ini, kameranya juga dilengkapi dengan teknologi AI, jadi hasil foto bakalan bagus banget. Hasilnya jernih, cling gitu.

Dengan HP ini, kita bisa mengabadikan momen terbaik kapan saja dan di mana saja. Karena dilengkapi dengan kamera belakang 16 MP + 2, sedangkan kamera depan 24 MP + 2. Ayok makin eksis dengan Huawei Nova 3i.

Ketiga, Dilengkapi dengan RAM 4 GB dan Storage 128

Nyimpen foto dan video sebanyak-banyaknya bisa nih.

Ini sangat menarik, pasalnya HP mid-end masa kini belum ada yang kapasitas penyimpanannya sebesar ini. Saya jadi berandai-andai gitu, kalau saya punya HP Huawei Nova 3i, pasti saya punya koleksi foto dan video yang bagus-bagus dengan jumlah yang banyak. Saya tidak perlu memindahkan foto atau pun video ke notebook.

Keempat, Diperkuat GPU Turbo untuk support gamming

Yang doyan ngegame, enggak perlu khawatir yes, HP enggak bakalan cepet panas.

Yes, HP ini memang benar-benar komplit, selain sudah menggunakan OS Android 8 (Oreo), ternyata diperkuat dengan Graphic Processing Unit (GPU) Turbo yang sangat support untuk gamming yaitu GPU Mali-G51 MP4. Sehingga mampu menampilkan gambar atau video dengan resolusi tinggi. Selain itu, kalau pas lagi nge-game, kita tidak perlu khawatir bakalan nge-lag atau ngadat. Yang jelas lancar jaya terus gamming dengan HP.

Kelima, Dibekali Sensor Sidik Jari

HP dipegang teman, enggak akan was-was ya, karena yang bisa membuka cuma kita. Harus pakai sensor sidik jari kita.

Ini saya sangat suka, kalau HP ketinggalan, orang lain tidak bisa membuka karena hanya bisa dibuka dengan sidik jari kita. Sehingga privasi kita terjaga meskipun HP kita sedang dipegang oleh orang lain. Canggih banget, kan? Saya jadi semakin ingin memiliki Huawei Nova 3i. Smartphone tercanggih dengan technologi mid-end masa kini.

Okay, itu merupakan lima alasan mengapa saya ingin memiliki Huawei Nova 3i untuk mengabadikan setiap momen penting dalam hidup kami. Karena kalau menggunakan kamera HP itu, praktis simple dan enggak perlu ribet. Di mana dan kapan saja, bisa bebas foto-foto sesuka hati, apalagi kalau lagi sama pasangan. Bisa tiap menit untuk foto-foto.

Demikian cerita tentang My 2018 Best Moment : Antara Jogja dan Solo yang Penuh Kenangan. Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Jiwo. Terima kasih.

Belajar Sejarah dari Monumen Tempat Lahir Jenderal Sudirman

 

Jenderal Sudirman, salah satu sosok pahlawan yang sering kita dengar. Pergerakannya sangat terkenal dengan Perang Gerilya. Iya, pada masa penjajahan, Jenderal Sudirman merupakan pemimpin perang yang disegani dan ditakuti oleh lawan. Namun, tahukah teman-teman dari mana Jenderal Sudirman dilahirkan?

 

Saya sebagai warga Kabupaten Purbalingga tentunya patut berbangga diri, karena pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini salah satunya Jenderal Sudirman yang lahir di Kabupaten Purbalingga. Tepatya di Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Karsid Kartawiradji dan Ibunya bernama Sijem. Selain itu, Jend. Sudirman kecil memiliki ayah angkat yang bernama Raden Tjokrosunardjo; yang merupakan seorang Asisten Wedana Rembang, Kabupaten Purbalingga. Sehingga dari nama ayah angkatnya tersebut, nama ‘Sudirman’ mendapatkan gelar ‘Raden’, sehingga namanya menjadi Raden Sudirman.

 

Baca juga : Belajar Sambil Bermain di Sanggaluri Park

Dan di Desa Bantarbarang sana, tempat kelahiran Jend. Sudirman sampai saat ini masih ada. Bahkan dijadikan sebagai monumen, dan terkenal dengan sebutan Monumen Tempat Lahir (MTL) Jenderal Sudirman. Di sana banyak beberapa peninggalan-peninggalan saat Raden Sudirman masih bayi. Rumah tersebut sering dikunjungi baik orang yang ingin berwisata atau hanya ingin belajar sejarah untuk menelisik Sang Pahlawan. Seperti halnya saya beberapa waktu lalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke monumen tersebut.

Benteng di dalam ini cukup panjang, dan terdapat ukiran atau relief tentang riwayat singkat Jend. Sudirman

Perjalanan kami memang cukup melelahkan karena untuk menuju lokasi Desa Bantarbarang cukup sulit. Sebagian jalan sedang diperbaiki dan medan merupakan jalan yang berliku-liku, naik turun bahkan ada jalan yang rawan longsor. Namun setelah sampai di desa tersebut, berubah total, jalannya halus dan lebar. Terlebih di kawasan monumennya. Sangat bagus. Waktu itu saya dan suami datang sudah cukup siang, panas juga rasanya. Tapi tetap semangat untuk mengunjungi tempat di mana jenderal besar dilahirkan. Tiket masuknya juga sangat murah, kalau tidak salah Rp 5.000 untuk dua orang. Kan murah pisan.

Kata Mutiara Jend. Sudirman

Dari pertama masuk saya langsung terkesima. Pelataran yang luas dengan benteng di tengahnya yang terdapat relief sejarah singkat dari Jenderal Sudirman. Di situ terlihat pahatan-pahatan tentang sejarah singkat Jend. Sudirman dari masa ke masa. Kemudian saya berjalan ke arah timur, mendapati Patung Pramuka, yakni sebuah patung di mana saat Jend. Sudirman masih remaja dan menjadi seorang Pramuka. Patung tersebut diresmikan oleh Presiden Suharto pada tanggal 23 Juni 1990. Selanjutnya kami masuk ke sebuah ruangan yang menjadi museum.

Patung Pramuka Jend. Sudirman

Riwayat Singkat Jend. Sudirman

Kami sangat takjub masuk ke ruangan ini. Luar biasa, di sini banyak hal-hal yang penting, seperti adanya sejarah singkat tentang Riwayat Hidup Jenderal Sudirman. Replika Tandu Jenderal Sudirman, Jas Jenderal Sudirman, Kereta Kencana, dan figura-figura lainnya termasuk peta Perang Gerilya. Selain itu ada pesan moral dan amanat dari Jenderal Sudirman yang terpasang di dinding pada bangunan ini. Luar biasa memang, amanat yang diberikan untuk kita semua sangatlah bermakna dan memang harus kita laksanakan. Betapa besarnya penderitaan, kita tidak boleh menyerah, karena semakin dekat cita-cita untuk tercapai, maka semakin besar pula penderitaan yang harus kita alami. Kira-kira begitu intinya. Bahwa kita sebagai manusia, jangan mudah menyerah, kita harus siap untuk menghadapi segala ujian hidup untuk mewujudkan cita-cita. Dan kita juga tidak boleh lemah, kita harus semangat.

Amanat Jend. Sudirman

 

Pesan Moral Jend. Sudirman

 

Replika Tandu Jend. Sudirman ketika sakit dan harus memimpin Perang Gerilya

Setelah mencoba memahami seksama dari isi bangunan ini, kami menuju bangunan yang ada di sebelah baratnya. Yaitu rumah di mana Jend. Sudirman dilahirkan. Di tempat ini kami lebih terpesona lagi. Selain ada sejarah singkat tentang perjalanan Jend. Sudirman dalam membela tanah air, ternyata di tempat ini masih ada benda-benda zaman dulu. Di sini masih ada ranjang di mana Jend. Sudirman dilahirkan, masih ada tempat tidur bayi, ayunan bayi dan meja bundar kecil.

Masih ada tempat tidurnya Jend. Sudirman kala bayi

 

Keranjang bayi model gini, sekarang masih ada gak ya?

Rumah ini memang sudah diperbaiki dari sebelumnya atau bisa dikatakan rumah duplikat. Terlihat jelas dari lantainya sudah berkeramik. Tujuannya memang agar pengunjung betah dan nyaman. Namun untuk benda-benda yang ada merupakan benda yang sama pada sejak Jend. Sudirman dilahirkan. Di rumah ini sungguh sangat nyaman. Udaranya sejuk alias adem, padahal di luar rumah itu cuaca sangat terik dan menyengat. Kami pun betah di sini sambil melihat-lihat apa saja yang terdapat di sini.

Samping barat rumah Jend. Sudirman ada masjid Jami juga.

Puas melihat-melihat seluruh isi rumah, kami pun beranjak ke luar. Ada tempat duduk di bawah pohon beringin yang rindang. Ini cukup menyenangkan bagi pengunjung, walau terik matahari sedang panasnya, tapi tetap saja masih ada da yang rindang. Selain itu, di sebelah baratnya ada sebuah masjid dan sebelah utaranya ada perpustakaan. Kami sebenarnya ingin ke perpustakaan kali saja ada buku sejarah yang membuat saya makin mengerti tentang sejarah negeri ini. Tapi sayang, tutup, karena kami ke sini hari minggu. Jadi tidak ada petugasnya.

 

Baca juga : Menilik Sejarah Candi Borobudur yang Menjadi Situs Warisan Dunia

Tahapan pembangunan MTL Sudirman

Oh ya teman-teman, satu lagi nih sampai lupa, kalau MTL Jend. Sudirman ini mulai didirikan atau peletakan batu pertama pada tanggal 06 Februari 1976, dan diresmikan pada tanggal 21 Maret 1997 oleh Jenderal Soerono. Dan berharapa MTL Jend. Sudirman ini bisa bermanfaat untuk generasi saat ini maupun generasi penerus.

Menikmati Lezatnya Nasi Padang di Rumah Makan Sako Bundo

Nasi Padang, siapa sih yang tidak mengenal masakan khas dari Sumatera Barat itu? Selain rasanya yang super lezat, porsinya juga jumbo, jadi sering diburu untuk mengenyangkan perut. Seperti halnya saya saat siang yang cukup panas di tengah kota Purwokerto, Jawa Tengah. Lelah, lapar dan dahaga membaur menyelimuti badan ini. Sampai-sampai aroma sedap dari sebuah warung makan menggelitik di hidungku. Langsung saja saya bilang ke Pak Suami untuk segera menghentikan laju sepeda motornya.

“Mas, stop, stop,” pintaku.
“Ada apa?” tanya Suami.
“Aku lapar, ayo makan,” dan aku pun merengek bak anak kecil
“Makan apa? Kenapa minta berhenti di sini? Memang mau makan apa?” tanyanya lagi.
“Aku mencium aroma masakan yang sangat nikmat, pasti di sekitar sini ada nasi padang,” jawabku sambil senyum-senyum dan mengedipkan alis.

 

Baca juga : Lezatnya Mie Ayam Pangsit Wetan Taman Kota

Nasi Padang Telur Dadar Pilihan Suami

Sambil mencari sumber nasi padang itu, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan sepeda motor. Tak berapa lama kemudian, memang ada rumah makan khas padang itu. Kami kebablas beberapa meter, sehingga kami putar balik lagi. Setelah Pak Suami memarkirkan sepeda motor, kami langsung masuk ke warung tersebut. Tak perlu lama-lama, kami langsung memesan menunya. Saya memesan nasi padang dengan lauk ayam semur, sedangkan Pak Suami memesan nasi padang dengan lauk telur dadar yang selalu jadi favoritnya. Untuk minumnya kami berdua cukup dengan air mineral yang sudah tersaji di meja.

 

Baca juga : Mau Menikmati Hidangan Enak Sambil Nyantai? Kedai Kebun Jawabannya

Nasi Padang Ayam Semur/Gulai Pilihan Saya

Kemudian kami memilih tempat duduk yang kosong untuk menikmatinya. Tak berapa lama kemudian, menu yang dipesan pun datang juga. Saatnya makan dah.. Saya mencicipi perlahan, mencoba menikmati setiap rempah-rempah yang ada di dalam hidangan ini. Dan ya, memang benar, aroma yang saya hirup ketika di jalan, sesuai dengan apa yang sedang ada di hadapan kami saat ini. Masakan padang ini sangat luar biasa. Bumbunya sangat meresap dan kerasa akan cita rasa khas Minang. Saya dan Suami pun makin lahap untuk menikmatinya. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan nasi padang ini.

Daftar Menu Nasi Padang Sako Bundo

Sambil menunggu nasi turun semua ke perut, kami bersantai dulu. Mengobrol ngalor ngidul berdua dan menghabiskan sisa-sisa air minum yang ada di gelas. Setelah dirasa cukup untuk istirahat, kami beranjak ke kasir untuk membayarnya. Harganya juga cukup murah, karena semuanya hanya dibandrol Rp 22.000. “Murah juga nih,” batinku.

Warung nasi padang ini juga sangat strategis karena dekat dengan Pasar Wage, Purwokerto. Jadi, yang sudah capek belanja segala macam kebutuhan di Pasar Wage, bisa mampir ke rumah makan Sako Bundo. Dijamin harga murah dan rasa luar biasa.

 

Rumah Makan

SAKO BUNDO

Jl. DI. Panjaitan No. 5 Purwokerto

Tlp. 0281 – 636551, 0812 2758 9700

Gua Maria Tritis, Gua Alami yang Memesona

Bulan Mei dan Oktober merupakan bulan yang diistimewakan oleh para umat Kristiani, perayaan kerap kali dilakukan karena pada bulan tersebut adalah bulan Maria. Sehingga tidak heran bila banyak umat Kristiani yang berbondong-bondong datang ke Gua Maria yang sudah tersebar di seluruh negeri. Salah satunya adalah Gua Maria Tritis yang ada di Yogyakarta, Gunungkidul.

Keberadaan Gua Maria bagi umat Kristiani tentunya bukan hal asing lagi. Namun, bagi wisatawan yang belum mengetahui dan ingin berkunjung dan bukan untuk beribadah juga masih bisa dilakukan. Karena memang tidak sedikit wisatawan yang sekedar berkunjung untuk melihat keunikan guanya.

Pada umumnya, Gua Maria yang tersebar di seluruh negeri adalah gua buatan, tapi berbeda dengan Gua Maria Tritis. Gua ini merupakan gua alami yang sudah dilengkapi dengan stalaktit dan stalagmitnya. Di dalam gua para peziarah yang datang biasanya akan berdoa langsung di depan patung Bunda Maria. Sembari berdoa mereka juga bisa mendengarkan riuhnya jeritan kelelawar ataupun suara air yang terus menetes menembus bebatuan.

Goa Maria Tritis.
Sumber : teluklove.com

Bagi Anda yang ingin berkunjung untuk berziarah atau sekadar berkunjung saja, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau sewa mobil OMOcars Jogja. Karena memang perjalanan yang ditempuh akan cukup jauh. Dari pusat kota Jogja saja mencapai 50 km. Bila tidak membawa kendaraan dan ingin menyewa mobil, Anda bisa mengandalkan OMOcars. Keuntungan menggunakan sewa mobil OMOcars adalah bisa lepas kunci dan mobil langsung diantarkan ke lokasi Anda berada. Harganya juga bisa lebih murah, dibandingkan harus naik taksi, kisaran 250 ribu per harinya. Bila tidak terlalu mengenal jalanan Jogja, Anda juga bisa sekaligus menyewa drivernya. Namun tenang saja, perjalanan yang cukup jauh akan terbayar dengan pesona guanya.

Baca juga : Menikmati Ramainya Jalan di Jogja yang Penuh Kesan

Bila sudah berada di kawasan Gua Maria Tritis, agar bisa sampai tepat di depan guanya, Anda harus berjalan kaki terlebih dahulu. Pada beberapa tempat, Anda juga bisa melihat stasi-stasi berisikan diorama proses penyaliban Sang Yesus. Biasanya bagi para peziarah saat melakukan jalan salib akan berhenti dulu di stasinya untuk berdoa. Saat masuk ke dalam mulut gua, Anda akan merasakan suasana yang hening. Biarpun sedikit riuh, itu alami dari alam. Bisa dibilang gua ini sangatlah cocok bila digunakan untuk komtemplasi.

Baca juga : Piknik Special Bersama Orang Special di Pantai Sundak

Bila Anda sudah menikmati pesona guanya, Anda bisa melanjutkan perjalanan Anda langsung ke deretan pantai yang ada di kawasan Gunungkidul, Jogja. Karena memang lokasi guanya juga tidak jauh dari pantai, sayang sekali rasanya bila Anda melewatkan menikmati pesona pantainya. Bila ingin menginap, Anda tidak perlu khawatir sebab di Gunungkidul apalagi di dekat lokasi wisatanya sudah banyak sekali penginapan yang bisa Anda sewa, dari mulai harga murah sampai mahal.

Baca juga : Menikmati Sensasi Pedas dan Gurih Ayam Geprek Bu Rum

Bagi Anda yang bukan umat Kristiani seperti saya, tentunya kita masih bisa menikmati pesona gua namun kita tetap menghormati saat ada umat Kristiani yang sedang berdoa, yaa…

Ayam Geprek Bae, Hidangan Murah yang Menjadi Buruan

Hallo, saya kembali mencoba menulis di sini lagi. Kali ini saya akan bercerita tentang kuliner di Purwokerto, Jawa Tengah. Kala itu saya lagi ada kerjaan mengecek sebuah harga perkakas bangunan di salah satu toko bangunan yang ada di Purwokerto. Saya pergi sama suami dan adik saya yang paling kecil. Ya itung-itung sambil jalan-jalan juga gitu, karena hari Minggu. Dari pada jauh-jauh ke Purwokerto cuma ngurusin kerjaan, kan bikin senep juga ya. Setelah keluar dari toko tersebut saya merasa lapar, maklum sudah siang dan perut belum diisi dari pagi (maksudnya belum diisi nasi, camilan apa saja si sudah masuk). Jadi saya minta ke Pak Suami untuk mampir ke salah satu tempat makan yang harganya murah. Pak Suami tentu hapal di mana saja lokasinya karena dia memang asli orang Purwokerto, bahkan kerjanya juga di Purwokerto.

“Emang mau makan apa?” tanyanya.
“Yang penting murah meriah, kenyang dan enak,” jawabku.
“Lah,” balas Pak Suami yang rada bingung karena istrinya minta yang rada konyol. Kan ya gimana gitu, udah minta murah meriah, enak, dan bikin kenyang.
“Pastinya makan apa ini?” desak Pak Suami.
“Apa aja deh yang penting ada nasinya, aku lapar,” cewek tuh begini, andalannya ya apa saja deh, terserah, yang penting ini, yang penting itu.
“Ya udah, ayam geprek bae ya,” jawabnya lagi.
“Oke,”

Di tempat parkir udah banyak kendaraan yang berjejer

Dan akhirnya kami pun melipir ke Ayam Geprek Bae yang terletak di Jalan Pierre Tandean No. 39, Purwokerto. Dari tempat parkirnya, jelas terlihat kalau warung makan ini sangat ramai. Karena banyak sekali sepeda motor yang berjejer rapi di situ. Dan kami pun langsung menuju tempat pengambilan nasi dan sayurnya. Oh ya, sebagai informasi nih buat teman-teman, kalau di Ayam Geprek Bae ini kita ambil nasi sesuai porsi kita, bebas ambil sendiri pokoknya dah. Terus nasinya ada dua pilihan yaitu nasi biasa sama nasi uduk. Nah lho, pilih yang mana? Mana saja boleh. Untuk sayurnya juga gitu, kita bebas ambil sayur apa saja. Ada lalapan, ada tumis tempe, ada tahu, berbagai macam gorengan dan lainnya. Pokoknya komplit banget dah.

Baca juga : Jalan-jalan ke Purwokerto? Jangan Lewatkan untuk Nyicipin Kue Serabi yang Lezat ini

Ambil nasinya bebas, sekenyangnya ya…

Yang paling unik dari cara penyajiannya adalah kami para pelanggan bebas mengambil menu apa saja secara antri namun tetap tertib. Ini yang membuat saya salut dan patut ditiru, biar enggak pada rebutan gitu.

Sayurnya juga tinggal pilih ya..

Terus setelah ambil nasi dan sayurnya, kita sampai di tempat kasir, di sini baru kita mau pilih pakai ayam apa enggak, dan pakai cabai berapa. Di sini ada ayam geprek original, ada ayam geprek mozzarella juga. Ya sesuai selera dan kantong juga. Berhubung tanggal tua juga Pak Suami belum gajian, kami pesen ayam geprek original saja. Dan saya pakai cabainya cukup satu biji saja lah, kagak perlu banyak-banyak. Pak Suami pakai cabai tiga, adik saya pakai cabai dua.

Baca juga : Mau Menikmati Hidangan Enak Sambil Nyantai? Kedai Kebun Jawabannya

Mari kita makan

Setelah pesanan menu sudah oke, tinggal kita pesen minumnya, menunggu di situ sekalian. Kami pun pesen es teh manis. Dan tiga porsi ini hanya seharga Rp 45.000,00. Kan murah banget? Udah ada nasi, sayur dan minu es teh manis pula. Ya cocok lah untuk kantong kita-kita yang sudah memasuki tanggal tua.

Ini daftar menunya

Sedangkan soal rasa, dari nasi saya suka banget. Karena apa? Karena nasinya pulen abis. Yes, betul, nasinya itu enak banget. Kemudian untuk lalapannya juga enak, sayurannya masih fresh gitu, enggak over cook. Namun saya sedikit kecewa dengan ayamnya. Jadi ayam geprek ini hanya semacam ayam ala-ala Kentucky terus ditumbuk dengan cabai. Rasanya ayamnya menurut saya biasa saja enggak terlalu istimewa, masih enak lah ayam goreng buatan sendiri.

Baca juga : Menikmati Sensasi Pedas dan Gurih Ayam Geprek Bu Rum

Untuk lokasinya cukup luas dan nyaman, pelayanannya juga ramah, dan tempat parkir juga luas. Ya, bisa lah kita bawa rombongan makan di sini. Sehingga di sini selalu ramai. Dari mana saja, banyak orang yang datang untuk menikmatinya. Karena selain murah meriah, kita juga bisa ambil makanan sesuai porsi dan selera kita. Itu mengapa Ayam Geprek Bae selalu jadi buruan orang-orang untuk mengisi perut.

Ya, jadi itulah kisah saya bersama ayam geprek yang harganya super murah. Semoga ayamnya makin enak.

Tempat-tempat yang Wajib Kamu Kunjungi di Desa Serang

Hallo, teman-teman, apa kabar? Setelah lama ‘tidur’ karena liburan akhirnya saya bisa menulis lagi tentang travelling. Kali ini saya akan menyampaikan sebuah destinasi wisata yang terletak di Kabupaten Purbalingga. Ini sebuah desa wisata yang mana dari sananya, maksudnya dari zaman dulu mungkin sejak bumi ini tercipta, desa ini sudah menyuguhkan banyak keindahan. Bahkan, sebagian traveller mengatakan, “Tuhan menciptkan tanah ini dengan sangat bahagia,”

Bagi pecinta alam tentunya sudah paham di desa mana yang saya maksud. Yakni Desa Wisata Serang. Di desa ini juga terdapat posko pendakian Gunung Slamet. Banyak para pendaki yang dari berbagai daerah yang sering melalui jalur dari Pos Bambangan, Serang untuk mendaki Gunung Slamet. Lalu, apakah hanya Gunung Slamet yang bisa kita nikmati dari Desa Serang? Tentu tidak, karena masih banyak tempat yang wajib kamu kunjungi di Desa Serang. Apa saja? Cek di bawah ini :

1. D’Las Serang

Ikonik Rest Area Serang. Foto from @minggat_an

Siapa yang tidak mengenal D’Las atau Rest Area Serang? Lokasi yang cukup luas dengan beberapa gazebo, orang berjualan makanan, ada pula kolam atau danau buatan yang mana kita bisa mengelilingi dengan ‘bebek ontel’. Ditambah lagi konsep taman juga hadir di sini, sehingga banyak warga yang berkunjung untuk menikmatinya. Selain itu, ada aula yang cukup luas, tempat ini sering dijadikan sebagai event atau acara tertentu. Jadi, ramai deh setiap hari. Dan hal yang paling menyenangkan, masuk di sini itu murah meriah. Pas kami masuk, dua orang dengan satu unit sepeda motor, itu cuma ditarik Rp 5.000, kan murah banget. Sehingga di D’Las ini menjadi idaman bagi siapa saja yang melewati Desa Serang. Termasuk kami.

Continue reading